Mahalnya Harga Pupuk Jadi Hambatan Produksi Bawang di Garut
Penyebab gagal panen di antaranya karena harga pupuk dan obat tanaman yang terus mengalami kenaikan.
Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Isal Mawardi
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Petani bawang merah di Kampung Ciharashas, Desa Panembong, Kecamatan Bayongbong, mengakui, penyebab gagal panen di antaranya karena harga pupuk dan obat tanaman yang terus mengalami kenaikan.
Akibatnya kenaikan tersebut, para petani terpaksa menurunkan jumlah produksi, belum lagi, saat cuaca ekstrem saat ini, tidak semua bawang bisa dipanen secara sempurna.
Petani bawang merah sekaligus tengkulak, Pramono, mengatakan, faktor tersebut lah yang dikeluhkan oleh sejumlah petani bawang di Desa Panembong.
"Penghasilan tidak seberapa, modal awal besar," kata Pramono di Desa Panembong, Kecamatan Bayongbong, (23/2/2018).
Untuk menyiasati hal ini, petani bawang di Desa Panembong memanfaatkan pupuk yang berasal dari kotoran untuk dijadikan sebagai nutrisi tanaman.
"Pupuk kandang lebih murah, jadi kami campur dengan pupuk kimia," ujarnya.
Barcelona Pagari 8 Pemainnya dengan Harga 'Gila', Messi Masih yang Tertinggi https://t.co/chObVcLraC via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) February 23, 2018
harga jual bawang merah pasca panen raya belum berada diangka standar, yakni 11 ribu perkilogram.
Saat ini, harga bawang yang dijual oleh para petani bawang dijual dengan harga Rp 9 ribu perkilogram dan di Januari lalu hanya Rp 5 ribu perkilogram.
Selain itu, di panen raya Januari lalu, total keseluruhan panen bawang di Desa Panembong mengalami penurunan yakni, 6 ribu ton.
Di tahun sebelumnya, jumlah produksi bawang di desa tersebut yaitu 7 ribu ton dalam sekali masa panen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/petani-bawang-merah-di-kampung-ciharashas-kabupaten-garut_20180223_110143.jpg)