Cerpen Beni Setia

Impulsia

SAYA adalah zombies, ditidurkan siang hari dan dijagakan di malam hari.

Impulsia
TRIBUN JABAR/yudixtag
Ilustrasi cerpen Impulsia 

Pada sejarah mandroid, itu pemberontakan terbesar, yang terjadi saat kami berkomplot untuk menguasai ramuan ajaib itu. Sukses sekian tahun, serta jadi lara sakau ketika pasokan ramuan ajaib itu habis, karena produksi sengaja mereka stop—dan karenanya kami kembali jadi budak adiks. Yang selalu ditata dan dikontrol. Ramuan lemas harus selalu diminum menjelang siang, dan yang itu hanya diminum menjelang malam ini—dengan latihan dan tes keterampilan fisik, kesiwarasan dalam tekanan stres dan putus asa, serta orisinilitas menghancurkan diri sendiri ketika tiba di situasi kandungan ramuan ajaib menurun di otak. Dan dalam suatu simulasi: setiap mandroid, zombies dilatih memusnahkan diri setelah tugas khusus selesai dan jauh dari markas.

**

MEMBUNUH itu target. Menyergap di tengah iringan berpengawal manusia riil, ketika berada dalam ruangan serta terbuka untuk dibidik, dan ketika pulang dari rapat kabinet, kami selalu ditarget untuk membunuhnya. Ya! Lantas menghilang, biar semua orang jadi tersulut, emosional, dan percaturan politik jadi kacau. Kemudian kebencian ras—terutama tersulut kesenjangan ekonomi—meletus, serta situasi ada dalam chaos. Dan kemudian angkatan aktif mengambil alih—sekaligus memusnahkan semua mandroid, zombies, dan mengendalikan keadaan. Mengembalikan semua ke kondisi normal. Serba terkendali—dikuasai—meski kesenjangan ekonomi tetap ternganga tapi tanpa riak pemberontakan. Dan pada saat itu mandroid akan disembunyikan—atau dimutilasi—sebelum diaktifkan lagi buat tugas negara memusnahkan musuk ekonomi dan politik, dan seterusnya.

**

TERKADANG terpikir, tubuhku ini telah ada berapa generasi? Tapi, kesadaran selalu ada di kondisi nol, dan karenanya ingatan cuma sesuatu yang diletakkan dalam rongga tubuh, dengan denyar chip kontrol yang kuat. Selalu pingsan serta disadarkan untuk mengikuti pelatihan tak kenal batas, kelelahan yang memaksa untuk segera makan, minum ramuan ajaib serta segera tertidur di kuburan—karenanya kami terkadang disebut: zombies. Di tingkat lanjutan, kami dibiarkan mengisi inteligensi dengan bacaan, tapi tak ada kemungkinan untuk berpikir aneh, sebab cekaman chip semakin kuat. Karena itu kami terkadang instingtif ingin segera dapat tugas pemusnahan serta pembunuhan, agar ikut musnah dan tidak disiksa dengan fakta fisik yang tidak pernah diisi kesadaran, melulu kosong—atau tak diperkenankan mencari masa lalu sambil dijauhkan dari fantasi—termarginalisasikan. Kami ini selalu kesepian meskipun bukan kesepian itu yang menyiksa—tapi keperihan fakta tanpa masa lalu, tanpa masa depan, tanpa fantasi, dan mutlak kosong terkucil.

***

Editor: Dedy Herdiana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved