Seusai 'Mati Suri', Infamy Langsung 'Disidang' Lantaran Terinspirasi Tema Selaras dengan The Beatles

Persidangan itu pun langsung menarik perhatian ratusan penggemarnya yang berjuluk Infamylia yang datang dan memadati kafe tersebut.

Seusai 'Mati Suri', Infamy Langsung 'Disidang' Lantaran Terinspirasi Tema Selaras dengan The Beatles
TRIBUN JABAR/KEMAL SETIA PERMANA
Grup band Infamy saat menjalani sidang di Pengadilan Musik di Kantin Nations The Panas Dalam Jalan Ambon, Kota Bandung, Jumat (16/2/2018) malam. 

Laporan Wartawam Tribun Jabar, Kemal Setia Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sungguh mengagetkan, setelah 'mati suri' selama 7 tahun, grup band metal bernama Infamy langsung harus duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Musik. Yang menjadi lantaran,  band bentukan 1994 itu menelorkan album ketiga yang membuat 'kekacauan' di dunia musik bawah tanah. Fakta tersebut terungkap dalam Pengadilan Musik ke-20 yang digelar Djarum Coklat Dot Com (DCDC) di Kantin Nations The Panas Dalam Jalan Ambon, Kota Bandung,  Jumat (16/2/2018) malam.

Persidangan itu pun langsung menarik perhatian ratusan penggemarnya yang berjuluk Infamylia yang datang dan memadati kafe tersebut. Mereka ingin menyaksikan ketegaran para personel Infamy menghadapi serangan duo jaksa penuntut umum, Budi Dalton dan Pidi Baiq. Terlebih di album anyarnya, band yang digawangi Andri Maryana (vokal), Ajie Setia Nugraha (gitar), Ricky Rizal Fauzy (gitar), Ghea Ghufrhoni (bass), dan llham Permana Sidik alias Jeune (drum), itu mengusung judul 'Harum Scarum' yang langsung membuat geger dan penasaran berbagai pihak di dunia musik death metal. 

Grup band Infamy saat menjalani sidang di Pengadilan Musik di Kantin Nations The Panas Dalam Jalan Ambon, Kota Bandung,  Jumat (16/2/2018) malam.
Grup band Infamy saat menjalani sidang di Pengadilan Musik di Kantin Nations The Panas Dalam Jalan Ambon, Kota Bandung, Jumat (16/2/2018) malam. (TRIBUN JABAR/KEMAL SETIA PERMANA)

Budi Dalton dan Pidi Baiq, sesuai dengan dakwaannya langsung meminta personel band untuk mempertanggungjawabkan "ulah" mereka. Selain menanyakan soal judul albumnya, Budi Dalton juga meminta Infamy menjelaskan arti nama band mereka. "Apa arti Infamy itu dan mengapa mengeluarkan album baru dengan nama Harum Scarum?" tanyanya.


Personel Infamy pun berusaha menjelaskan semua pertanyaan jaksa penuntut umum. Disebutkannya, nama band mereka tidak memiliki arti spesifik hal ini serupa dengan album terbaru mereka yang baru dirilis ini.  "Istilah Harum Scarum memiliki dua makna. Pertama sebagai penggambaran seseorang yang bertindak tanpa perhitungan atau terburu-buru dengan nafsu. Sementara arti kedua, Harum Scarum juga merujuk pada istilah Helter Skelter yang dipopulerkan oleh Charles Manson sebagai penggambaran atas kebangkitan kaum-kaum tertindas dan kemudian direspon oleh grup musik legendaris, The Beatles," kata Ajie salah seorang personel.

lstilah Harum Scarum ditambahkan Andri, ada beberapa makna yang mereka adopsi dan dirasa mewakili isi dari album ini, yakni bisa menjelma jadi sebuah mantra untuk tujuan tertentu. Hal ini terasa dari warna musiknya yang banyak memainkan musik bernuansa mistikal.

Grup band Infamy saat menjalani sidang di Pengadilan Musik di Kantin Nations The Panas Dalam Jalan Ambon, Kota Bandung,  Jumat (16/2/2018) malam.
Grup band Infamy saat menjalani sidang di Pengadilan Musik di Kantin Nations The Panas Dalam Jalan Ambon, Kota Bandung, Jumat (16/2/2018) malam. (TRIBUN JABAR/KEMAL SETIA PERMANA)

Sementara itu Penasehat Hukum terdakwa yang diwakili Ebenz Burgerkill dan Yoga PHB mengatakan bahwa selaras dengan istilah judul album‎ yang multiarti, Album Harum Scarum sangat layak dipasarkan di dunia musik indie Tanah Air.  Selain warna musik Infamy semakin canggih, khususnya dalam penggarapan materi. Sembilan lagu yang ‎terdapat dalam album ini pun menjadi bukti bahwa kualitas mereka sudah patut disejajarkan dengan band-band dunia. ‎"Mereka memainkan nuansa mistikal yang dipadukan dengan tema-tema flksi ilmiah hingga konspirasi kelas dunia," ujarnya.

Dalam persidangan yang didalangi hakim ketua, Man Jasad, itu tidak jarang terjadi perdebatan seru antara duo jaksa penuntut umum versus duet pembela. Perdebatan tentang kelayakan album ketiga hadir di dunia musik metal itu menjadi tontonan menarik, karena masing-masing kubu berargumen dengan gayanya yang kocak sehingga kerap mengundang gerrr hadirin. Kemeriahan perdebatan juga kerap dipicu Eddi Brokoli sebagai panitera yang terlibat dalam perdebatan.

Dengan fakta kejadian di persidangan itu, Hakim Ketua pun akhirnya kerap hanya jadi penonton sambil tetap menyimak perang mulut tersebut. Namun saat gilirannya tiba, hakim ketua yang telah cukup banyak mendengar dakwaan atau tuntutan duo jaksa penuntut umum pun mampu memberi keputusan. Man Jasad menanggapi bahwa dengan segala konsepsi dan kematangan musikalitas yang dimiliki Infamy, sudah tentu Infamy patut mendapat p‎erhatian dan apresiasi.

Halaman
12
Penulis: Kemal Setia Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved