Empat Unicorn Indonesia Kuasai Bisnis Start Up di Asia Tenggara

Saat ini, Asia Tenggara menjadi rumah dari tujuh unicorn, empat di antaranya berasal dari Indonesia.

Empat Unicorn Indonesia Kuasai Bisnis Start Up di Asia Tenggara
Reska K Nistanto/KOMPAS.com
Kantor Go-Jek Indonesia 

Traveloka saat ini melayani layanan hotel, penerbangan, kereta api, dan paket pariwisata di enam negara di Asia Tenggara: Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Filipina.

Traveloka
BBC

Presiden dan CEO Expedia, Dara Khosrowshahi, menyebut suntikan dana diberikan kepada Traveloka lantaran perusahaan yang dibentuk tahun 2012 oleh Ferry Unardi dan dua temannya ini merupakan "penyedia layanan pariwisata online terdepan di Indonesia dan berekspansi sangat agresif di Asia Tenggara".

"Kami sangat tertarik untuk memperluas keberadaan kami di Asia, untuk belajar dari tim Traveloka dan untuk membuka pilihan layanan pariwisata yang bervarias untuk pelancong Traveloka dan Expedia," ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Ini bukan kali pertama Expedia menyuntikan dana kepada start up di Asia Tenggara.

Pada 2011 lalu, perusahaan ini bekerja sama dengan maskapai berbiaya rendah asal Malaysia, Air Asia untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture).

Pada 2015, Expedia mengucurkan US$86,3 juta untuk mengambil alih 75% saham maskapai tersebut.

Tokopedia

Tokopedia masuk ke tataran unicorn setelah memperoleh penyertaan investasi senilai US$1,2 miliar (Rp 15 triliun) dari Alibaba pada 17 Agustus 2017.

Tokopedia
BBC

Selain menyuntikan modal ke Tokopedia, raksasa niaga elektronik Alibaba juga menggelontorkan investasi sebesar US$1 miliar ke perusahaan e-commerce asal Singapura, Lazada, yang menjadikannya termasuk dalam jajaran unicorn.

Aliansi Alibaba-Tokopedia-Lazada dinilai tidak hanya akan mengubah lanskap bisnis ekonomi digital di Indonesia, namun juga mengubah model bisnis marketplace ini.

"Tidak menutup kemungkinan berkembang ke wilayah lain, yang sangat mungkin itu adalah payment system juga. Karena soal transaksi online itu kan pada umumnya merekam data transaksi pembayaran yang cukup masif," ujar Priyantoko.

Data yang dijabarkan dari Crunchbase mengungkapkan bahwa layanan online market place tersebut, kini secara keseluruhan telah memperoleh pendanaan senilai US$1,347 miliar.

Bukalapak

Bukalapak bergabung dengan jajaran unicorn asal Indonesia mulai akhir tahun lalu. Grup media terbesar kedua di Indonesia, Emtek, merupakan salah satu penanam modal di marketplace ini.

Selain itu, dua perusahaan ventura asal AS, 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners, juga menanamkan modalnya di Bukalapak dengan angka yang tidak dipublikasikan.

CEO Bukalapak Achmad Zaky mengklaim, kinerja bisnis yang dirintisnya ini makin kinclong pada 2017 lalu, dengan pertumbuhan transaksi mencapai 3-4 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Pengguna aktif bulanan Bukalapak pun menyentuh 35 juta, dengan jumlah pelapak mencapai 2,2 juta. Dengan begitu, sekitar 30% warga net Indonesia mengakses marketplace ini dalam sebulan.

Bukalapak
BBC

Betapapun, dilihat dari profil para investor yang berada di belakang Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak, terlihat jelas didominasi oleh investor asal AS, Cina, Singapura, dan Hong Kong.

Menurut Prasetyantoko, faktor utama banyaknya investor asing menyuntikkan dana ke unicorn Indonesia lantaran besarnya potensi pasar di Indonesia.

"Menurut saya itu tidak bisa dihindari, ketika unicorn itu muncul di Indonesia karena opportunitynya ada di sini, itu kemudian yang melihat peluang untuk scale-up adalah investor asing, karena investor domestik kemampuannya untuk scaling up tentu terbatas."

"Perusahaan asing juga melihat ini sebagai kesempatan untuk masuk ke pasar Indonesia yang opportunity-nya masih sangat luas," cetusnya.

Yang perlu dipastikan, tegas Prasetyantoko, ekosistem di dalam negeri harus berjalan dengan baik.

"Artinya unicorn ini mampu men-scaling up perusahaan-perusahaan lain yang lebih kecil yang itu juga memerlukan penanganan dari sisi modal dan kapasitas," ujarnya.

Adapun saat ini pemerintah beroirientasi untuk menginkubasi perusahaan-perusahaan rintisan baru di bidang digital.

"Pemerintah Indonesia punya target setelah empat unicorn itu mereka sedang mempersiapkan untuk menginkubasi unicorn-unicorn yang lain," tuturnya.

"Jadi fasenya sekarang adalah mengikubasi. Tapi nanti akan ada fase seperti membenahi kebijakan soal perpajakan untuk sektor ini," ujarnya kemudian.

Namun, jika dibandingkan dengan dua negara pesaingnya, Cina dan India, sudah pasti Indonesia kalah saing.

Pasalnya, kedua negara itu memiliki modal dan kapasitas SDM yang lebih baik ketimbang Indonesia.

Yang terpenting, pemerintahnya sudah sekian lama melakukan berbagai upaya untuk inkubasi.

"Apalagi kalau kita lihat Cina, itu tidak hanya menginkubasi, tapi juga memproteksi pemain-pemain digitalnya, sehingga memang boleh dibilang di dalam negeri mereka menjadi kuat karena ngga ada pesaing dari luar Cina," katanya.(BBC)

Editor: Ravianto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved