Breaking News:

Kisah Pemulung Bersalin di Gerobak, Sang Ibu Alami Pendarahan Hebat dan Depresi

anak saya lahir di gerobak, habis subuh, sekitar jam 05.00. (Saya) Bingung, mau minta tolong sama siapa jam segitu

Warta Kota/Hamdi Putra
Rosida dan Sanudin serta bayi laki-laki mereka di rumah kontrakan, sebelum dibawa ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, Kedoya, Jakarta Barat. 

Sekitar pukul 10.30 WIB, Kamis (08/02), Rosidah, Sanudin dan bayinya dibawa ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, Kedoya, Jakarta Barat.

Sanudin lahir di Indramayu, Jawa Barat, pada tanggal 7 Januari 1982. Tahun 1998, ia nekat merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pemulung.

Tiga tahun kemudian, ia dinyatakan mengidap penyakit gula, hingga beberapa jari kakinya membusuk.

"Jempol dan telunjuk kaki kiri sama telunjuk kaki kanan. Saya potong sendiri pakai pisau," ujar Sanudin.

Tahun 2013 ia menikahi Rosidah, wanita yang sepekerjaan dengannya. "Dia mulung juga. Kami satu bos," jelas Sanudin.

Menurut Sanudin, Rosidah merupakan warga asli Kebon Pisang, Jelambar, Jakarta Barat.

Rosidah memiliki saudara tiri bernama Nining yang merupakan warga Jelambar.

 Sanudin memiliki kakak perempuan di Karawang, Jawa Barat, yang bernama Ruwenah.

"Kakak saya ikut suaminya ke Karawang, punya anak tiga," terang Sanudin.

Baca: Masya Allah, Laudya Cynthia Bella Perlakukan Mantan Istri Suaminya dengan Spesial, Ini Buktinya

Diberitakan, bayi laki-laki dari Rosida (35), wanita yang hampir melahirkan di pinggir jalan, Grogol, Jakarta Barat, dibawa ke Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa, Cipayung, Jakarta Timur.

Bayi berusia satu bulan tersebut diberi nama Taufik Hidayat. Sebelumnya, Taufik sempat dibawa ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (8/2/2018).

Taufik terpaksa dibawa ke PSAA Balita lantaran ibunya menderita gangguan kejiwaan. Sedangkan ayahnya, Sanudin (35), memiliki penyakit gula.

"Itu anak sampai dibekap mulutnya oleh sang ibu," kata Tarmizi, petugas Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, kepada Warta Kota, Jumat (9/2/2018).

Menurut Tarmizi, Sanudin tidak bersedia memberikan anaknya kepada negara.

"Dia hanya bersedia dititipkan saja. Jadi, sewaktu-waktu bisa jenguk dan ketemu anaknya," ujar Tarmizi.

Awalnya, hidup terlantar di jalanan, seorang wanita hampir melahirkan di pinggir jalan. Selama berhari-hari, ia dan suaminya hidup tanpa memiliki tempat berteduh. (*)

Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved