Breaking News:

Kisah Pemulung Bersalin di Gerobak, Sang Ibu Alami Pendarahan Hebat dan Depresi

anak saya lahir di gerobak, habis subuh, sekitar jam 05.00. (Saya) Bingung, mau minta tolong sama siapa jam segitu

Warta Kota/Hamdi Putra
Rosida dan Sanudin serta bayi laki-laki mereka di rumah kontrakan, sebelum dibawa ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, Kedoya, Jakarta Barat. 

"Saya langsung hubungi ibu-ibu PKK supaya nyumbang bedong, pakaian bayi dan ibunya," terang Eneng.
Selama 5 hari di rumah sakit, biaya pengobatan Rosidah ditanggung oleh Suku Dinas Sosial Jakarta Barat.

"Surat-surat saya yang urus. Dia nggak punya KTP dan KK," jelas Eneng. Menurut Eneng, saat Rosidah dan bayinya dirawat di rumah sakit, banyak pihak yang ingin membeli bayi Rosidah.

"Banyak yang mau ngambil, bahkan mau beli, sampai Rosidah depresi," kata Eneng.

Setelah keluar dari rumah sakit, Rosidah, Sanudin dan bayi mereka tinggal di sebuah kontrakan di Jalan Makaliwe 1, Grogol.

"Ada donatur yang bersedia bantu bayar uang kontrakan, namanya Edi," tutur Eneng. Kemudian, Sanudin melanjutkan pekerjaannya sebagai pemulung.

"Tanggal 5 Februari dia ke rumah, dia bilang anaknya mau dijual atau saya yang rawat, soalnya Sanudin ini udah enggak sanggup," ujar Eneng. Eneng terpikir untuk menghubungi Suku Dinas Sosial Jakarta Barat.

Lalu, ia minta tolong temannya, pegawai Sudinsos untuk meminta bantuan. "Mak Yoyo ngasih saya nomor Pak Ridwan, lalu saya hubungi beliau," kata Eneng.

Baca: Jejak Kriminal Skinhead Residivis, Buron, Hingga Ditembak Mati Polisi

Kamis pagi (08/02), Eneng dan beberapa warga setempat bertemu dengan Ridwan, Satuan Pelaksana 
Sosial Kecamatan Grogol Petamburan, di Pos RW 07.

"Beliau telpon sana sini, akhirnya orang Sudinsos datang, ada enam orang," ujar Eneng.

Halaman
1234
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved