Peneliti di Bandung Gagal Melihat Fenomena Gerhana Bulan Total

Di kawasan Bandung, ia menyebut tak ada laporan yang melihat gerhana bulan.

Peneliti di Bandung Gagal Melihat Fenomena Gerhana Bulan Total
(ANTARA FOTO / NYOMAN BUDHIANA)
Puncak gerhana bulan sebagian sekitar pukul 02:20 Wita yang terpantau dari Kota Gianyar, Bali, Selasa (8/8/2017). Gerhana bulan yang berlangsung sekitar 1 jam 55 menit tersebut dapat dilihat dari seluruh kepulauan di Indonesia. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Para peneliti di observatorium Boscha tak bisa melihat fenomena gerhana bulan total.

Awan tebal menutup pengamatan fenomena langka tersebut.

Zainuddin, staf obsevatorium Boscha mengatakan, puncak gerhana bulan terjadi pada pukul 19.52 sampai 21.08.

Namun para peneliti tak berhasil melihat gerhana bulan total.

"Kondisi awannya rendah tebal. Artinya pergerakan awan cukup tinggi. Jadi sulit untuk dilihat," ujar Zainuddin di Boscha, Rabu (31/1/2018).

Di kawasan Bandung, ia menyebut tak ada laporan yang melihat gerhana bulan.

Dari laporan yang ada, fenomena tersebut bisa dilihat di Pameungpeuk, Kabupaten Garut dan Jakarta.

"Di Garut bisa terlihat tapi masih terhalang awan. Jika tidak terlihat ya sudah. Soalnya kami mengejar gerhana totalnya untuk diteliti," katanya.

Ada beberapa pengamatan yang bisa dilakukan dari tiga fenomena dalam satu waktu.

Pertama yakni blood moon, bisa dilihat dari merahnya bulan.

Ketika melihat warna merah dari bulan, bisa mengukur polusi di atmotsfer bumi.

Jika semakin gelap, maka bisa semakin buruk atmotsfernya.

"Untuk super moon, bisa melihat bulan yang 14 persen lebih besar dari bumi. Sedangkan blue moon, bukan bulan berwarna biru, tapi ada dua kali purnama dalam satu bulan," ucapnya.

Menurutnya, keunikan dari tiga fenomena langka ini hanya terjadi 192 tahun sekali.

Meski kemarin malam, peneliti tak bisa melihat gerhana bulan total, masih ada waktu pada 28 Juli untuk mengamati.

"Untuk penelitian hanya di gerhana totalnya saja. Kalau tiga fenomena ini, bisa dinikmati oleh masyarakat," ujarnya.

Polusi cahaya di sekitar Bandung diakui Zainuddin cukup mengganggu proses pengamatan.

Jika diperhatikan awan dekat Kota Bandung berwarna kemerahan.

Berbeda dengan awan di sekitar Boscha yang lebih gelap.

"Tentunya jadi kendala (polusi cahaya). Boscha sudah tak ideal karena cakupan langit sudah tak bagus karena polusi cahaya. Harus gelap kriteria yang baik," ucapnya. 

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved