Senin, 13 April 2026

Rektor ITB Menawarkan Rumus dan Kunci Sukses untuk Normalisasi Sungai Citarum

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Kadarsah Suryadi menawarkan beberapa konsep terkait normalisasi Sungai Citarum.

Penulis: Isal Mawardi | Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Cipta Permana
Rektor ITB, Prof Kadarsah (kiri) bersama Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Bermawi P Iskandar (kanan) di Gedung Rektorat ITB, Ruang Rapim A, Jalan Taman Sari, Kota Bandung, Jumat (16/12/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isal Mawardi

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Kadarsah Suryadi menawarkan beberapa konsep terkait normalisasi Sungai Citarum yang sedang digenjot oleh Pemerintah Pusat.

"Ada keyword (kata kunci) yang disebut C I S. C itu commitment (komitmen), I adalah involvement (keterlibatan), S ialah support (dukungan)," ujar Kadarsah Suryadi di Ruang Serbaguna ITB, Rabu (24/1/2018).

Menurutnya, adanya komitmen dari pemerintah pusat menjadi langkah awal untuk mengembalikan wajah Sungai Citarum yang sempat mendapatkan julukan sungai terkotor di dunia versi Washington Post.

Komitmen dari Pemerintah Pusat dapat terlihat dari program yang dibentuk sesuai Peraturan Presiden (Perpres) bernama Citarum Harum Bestari.

Hal tersebut menunjukan komitmen pemerintah untuk menata kembali sungai Citarum.


Selanjutnya adalah involvement yang artinya keterlibatan.

Dalam penataan Sungai Citarum, dibutuhkan keterlibatan dari seluruh stakeholder terkait, baik itu dari pemerintah, akademisi, industri, hingga masyarakat.

Kemudian, penataan citarum tidak ada artinya tanpa ada support atau dukungan dari berbagai elemen, termasuk dukungan dana.

Hal itu karena proses normalisasi Sungai Citarum ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

"Selain itu ada B, Behavior (tingkah laku), A, Attitude (sikap), dan C, Culture (budaya)," ujar Karim Suryadi.


Karim Suryadi mencontohkan soal penerapan aturan memakai sabuk pengaman saat berkendara.

Warga menuruti peraturan tersebut karena takut terkena sangsi yang membuat behavior atau tingkah lakunya menjadi berubah.

Lama kelamaan, orang pun menjadi sadar akan pentingnya sabuk pengaman dan sikapnya (attitude) pun berubah menjadi sebuah kebiasaan atau budaya (culture) sehari-hari.

Contoh di atas juga akan berlaku sama saat para penegak hukum memberikan aturan terkait pelarangan membuang sampah ke sungai.

"Keyword CIS dan BAC ini sangat penting demi keberlangsungan Citarum," ujar Karim Suryadi.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved