P2TP2A Dampingi Kasus Siswa SD yang Berkelahi Hingga Tewas

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) akan mengawal kasus ini dari aspek psikologis.

TRIBUNJABAR.CO.ID/THEOFILUS RICHARD
Ketua P2TP2A, Netty Prasetiyani, menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Sate, Senin (27/11/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG – Kasus perkelahian yang menyebabkan tewasnya seorang bocah SD dilanjutkan ke ranah hukum.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) akan mengawal kasus ini dari aspek psikologis.

“Kemarin saya sudah minta P2TP2A untuk koordinasi dengan P2TP2A Kabupaten Bandung untuk mendampingi (pelaku) dari aspek psikologisnya. Kalau aspek hukumnya kita sudah punya UU SPPA (Sistem Peradilan Pidana Anak), itu wilayah teman-teman penegak hukum,” ujar Ketua P2TP2A, Netty Prasetiyani, Senin (28/11/2017).

Netty Prasetiyani mengatakan, nantinya pelaku yang berinisial AR, akan mendapatkan perlakuan berbeda dari pelaku pidana yang sudah dewasa.

Nantinya ia akan ditangani oleh penyidik, jaksa, dan hakim yang memiliki perspektif anak.

“Sehingga tidak ada seragam, sorotan kamera, tidak ada pertanyaan yang biasa dilontarkan pada pelaku dewasa,” ujar Netty Prasetiyani.


Untuk menghindari peristiwa yang sama terulang, Netty Prasetiyani menghimbau pada sekolah untuk menerapkan konsep Sekolah Ramah Anak dan Sekolah Bebas Kekerasan.

Dengan konsep itu, diharapkan setiap kekerasan bisa dihindari, karena dengan konsep tersebut, sekolah akan menyelesaikan segala bentuk masalah yang dihadapi anak, mulai dari kekerasan verbal dan kekerasan fisik.

Halaman
12
Penulis: Theofilus Richard
Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved