Rupiah Anjlok, Bank Indonesia Gugup

Rupiah bergerak liar terus melemah terhadap mata uang dollar, Amerika di akhir. . .

Editor: Fauzie Pradita Abbas
shutterstock
Tangan seorang wanita memegang uang seratus ribuan rupiah. 

TRIBUNJABAR.CO.ID - Rupiah bergerak liar terus melemah terhadap mata uang dollar, Amerika di akhir Oktober ini menembus Rp 13.600 per satu US dollar  . 

Dibandingkan pelemahan mata uang regional lainya seperti Singapora, rupiah  lebih  terjun bebas. Seakan-akan tidak ada Bank Indonesia dalam NKRI  ini. Kemana jurus Gubernur BI.

Pelemahan mata uang di Asia  memang karena perekonomian Amerika terus membaik. Dan trend  perekonomian Amerika terus positif baik kebijakan fiskal oleh pemerintah  AS, maupun  kebijakan moneter yang di lakukan oleh the Fed.

Bank Sentral seperti Singapora telah menyiapkan  intrument moneter  yang inovatif dan antisipatif sehingga perkembangan perekonomian Amerika tidak signifikan mempengaruhi mata uang  Singapora.

Otoritas Moneter Singapura, menggunakan pertukaran mata uang Singapore dollar sebagai instrument utama kebijakan moneter bukan suku bunga. Ini memudahkan, otoritas bank central untuk melakukan penyesuaian kebijakan terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.

Beda dengan rupiah, BI kelihatan agak gugup mengantisipasi perkembangan ekonomi Amerika, sehinga intrument BI tidak inovatif hanya intervensi pasar,  yang hanya menghabiskan cadangan devisa tanpa efek maksimal  pengaruhnya. 

Bi dituntut harus inovatif dan  dan antispatif terhadap kondisi perekenomian global khusus ekonomi Amerika.

Semoga gubernur BI  yang akan habis masa jabatan Mei 2018 punya jurus  baru menguatkan nilai rupiah agar kelihatan bahwa kita memang punya gubernur BI yang berkualitas bukan jurus berkampanye untuk terpilih lagi menjadi Gubernur BI Periode berikutnya. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved