Budaya

Menggendong Sandal Hello Kitty, Kisah Getir Rakyat Miskin Kota

narasi Menggendong Sandal Hello Kitty (MSHK), kisah yang mencitrakan pahit-getir dan suka-duka rakyat miskin kota

Menggendong Sandal Hello Kitty, Kisah Getir Rakyat Miskin Kota
Istimewa
Gusjur Mahesa dan warga Manteos mementaskan pertunjukan teater dengan narasi Menggendong Sandal Hello Kitty (MSHK), di Teras Cikapundung, Minggu (07/10/2017). 

Menurut warga, Teras Cikapundung baru pertama kali dipakai untuk tujuan pertunjukan teater, sering kali arena itu dipakai dangdutan dan taman selfi saja.

Mungkin itulah salah satu faktor yang membuat penonton yang terus berdatangan dan memenuhi tempat duduknya.

Disisi lain, konsisi itu mampu menggedor gairah para pemain untuk tetap semangat menggelar pertunjukan, meski gerimis tak mau berdamai barang sebentar.

Pertunjukan yang dibungkus dengan pendekatan drama musikal dan sajian bodoran kampung dengan celetukan lugas-jujur, ampuh membius penonton selama dua jam. Penonton tertawa, sesekali merenung, bahkan penonton ikut larut sambil membubuhkan celetukan-celetukan kritik bagi kondisi masyarakat kota yang ditampilkan sakit.

Bila membaca beberapa kali tampilan penyutradaraan Gusjur Mahesa dan pemeranan Suyadi (di pertunjukan MSHK merangkap asisten sutradara), entah disadari atau tidak. Kiranya kita akan merasakan bodoran yang terkoneksi muasal kulturnya, misalkan, kita akan merasakan gaya ketoprak-an yang kadang terasa fisik namun disertai teknik, gaya bodoran yang diulang untuk mendapatkan efek konyol sehingga mampu memancing gelak-tawa penonton.

Pementasan MSHK yang memberdayakan pemuda-pemudi kampung Manteos dan kelincahan anggota Teater Tarian Mahesa, keduanya mampu bersinergi dan saling mengimbangi, meski beberapa tokoh yang membawakan narasi tampak diperankan oleh pemain dengan jam terbang yang lumayan mumpuni. 

Pada posisi ini, kita dapat memahami bahwa teks kuat dan banyak harus dibawakan oleh aktor yang kuat, sebab teks itu mewakili tokoh-tokoh dalam naskah (representasi kenyataan sosial) yang harus terkabarkan, bahkan teks yang dipinjam-wujudkan oleh para aktor diharapkan dapat menggetarkan para penonton untuk bisa berbuat di kehidupan yang sebenarnya.

Tertawa dan Isu kota

Izinkan saya berkaca pada esai “Tertawa” yang ditulis Jaya Suprana dalam majalah Kalam: Menurut dia, pada paham budhisme Cina, sosok peran Budha memiliki peran cukup penting dan viral, terutama membawa keberuntungan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Pertanyaannya: Apa yang harus kita perbuat supaya Dia tertawa dan kita mendapat bahagia? Titik balik dengan isu kota dan kenyataan kota, pertanyaannya anda akan berbuat apa?

Namun sisilainnya tertawa adalah suatu akibat yang terangsang perubahan mendadak dari suatu rasa penuh harapan menjadi nihil. Pertanyaannya: apakah kita menyadari bahwa tertawa pada posisi ini sejalan dengan nasib yang ironis?

Kedua anggapan itu seperti gambaran yang terjadi pada suasana pentas teater MSHK, tertawa-mentertawakan isu kota sebanding lurus dengan melihat kenyataan diri kita, pemimpin kita,  harapan kita sekaligus mempertanyakan: apa yang akan kita perbuatan selepas pentas dan tertawa?

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved