Kamis, 9 April 2026

Tiap Tahun, Menara Transmisi Listrik Ternyata Disambar Petir Puluhan Kali

Tak jarang, sambaran petir itu membuat tower transmisi milik PLN mengalami gangguan karena sistem perlindungan yang ada kurang efektif.

Penulis: Yongky Yulius | Editor: Ravianto
yongky yulius/tribun jabar
Ilustrasi dari inovasi sistem perlindungan tower transmisi PLN bernama Isolated Ground Shield Wire. Inovasi itu dikembangkan oleh tim dari PT Tesla Daya Elektrika yang merupakan tenant (penyewa) di LPIK ITB. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Muhammad Fattah Aziiz adalah lulusan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung tahun 2015.

Bersama tim Tesla Daya Elektrika yang terdiri dari Dr. Ir. Djoko Darwanto, Gumilang Dewananta, dan Achmad Arbi, berhasil menyabet juara pertama pada kompetisi Swiss Innovation Challenge 2017, di Sheraton Bandung Hotel & Towers, Jumat (22/09/2017) silam.

Inovasi yang mereka ciptakan adalah sistem perlindungan tower transmisi PLN.

Sistem itu bernama I-GSW ( Isolated Ground Shield Wire) High Voltage untuk perlindungan pada tower transmisi tegangan tinggi dan I-GSW Medium Voltage untuk perlindungan pada tower distribusi tegangan menengah.

Kepada Tribun Jabar, Muhammad Fattah Aziiz, mengungkapkan alasannya mengapa ia bisa bergabung bersama tim Tesla Daya Elektrika itu.




"Inovasi ini kan sebenarnya sudah lama dikembangkan oleh Pak Djoko. Tapi baru dikembangkan secara serius pada tahun 2015 akhir, karena sebelumnya beliau adalah akademisi ITB. Akademisi ITB kan tidak boleh komersialisasi inovasi teknologi apapun. Setelah pensiun baru beliau mengembangkan I-GSW," ujar Fattah.

"Kebetulan, dari tahun 2015 akhir. Teman saya Gumilang Dewananta dan Achmad Arbi sudah gabung sama Pak Djoko. Tahun 2016 awal saya diajak bergabung karena katanya mereka butuh orang dari manajemen bisnis, mereka semua kan orang teknik," sambung pria berkacamata itu.

Setelah menerima ajakan, Fattah pun setuju untuk bergabung.


Alasannya, lanjut Fattah, karena ia tidak ingin bekerja menjadi karyawan.

"Saya punya idealisme ingin menjadi technopreneur. Saya ingin mengembangkan usaha di bidang teknologi," ujar Fattah.

Kemudian, kata Fattah, inovasi sistem pelindungan tower transmisi PLN yang dikembangkan oleh Tesla Daya Elektrika pun cukup memiliki prospek yang baik.

Saingannya, sambung Fattah, masih sangat sedikit. Selain itu, harga yang ditawarkan oleh saingannya pun cukup tinggi.

"Ya tidak ada alasan untuk tidak bergabung," kata Fattah.

Saat ini, Fattah pun berkonsentrasi penuh dengan menjadi bagian Keuangan dan Marketing pada produk Isolated Ground Shield Wire dari Startup PT Tesla Daya Elektrika.

Cara Kerja Sistem Perlindungan Tower Transmisi yang Diciptakan Tesla Daya Elektrika

Dalam setahun, sebuah tower (menara) transmisi milik PLN rupanya bisa disambar oleh petir sebanyak puluhan kali.

Tak jarang, sambaran petir itu membuat tower transmisi milik PLN mengalami gangguan karena sistem perlindungan yang ada kurang efektif.

Berangkat dari permasalahan itu, Dr. Ir. Djoko Darwanto, bersama timnya yang beranggotakan Muhammad Fattah Aziiz, Gumilang Dewananta, dan Achmad Arbi yang merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang keempatnya tergabung dalam perusahaan rintisan PT Tesla Daya Elektrika, mengembangkan sebuah inovasi sistem perlindungan tower transmisi.

Sistem itu bernama I-GSW High Voltage untuk perlindungan pada tower transmisi tegangan tinggi dan I-GSW Medium Voltage untuk perlindungan pada tower distribusi tegangan menengah.

I-GSW merupakan singkatan dari Isolated Ground Shield Wire.



"Inovasi ini berupa sistem. Jadi terdiri dari empat alat atau komponen," ujar Muhammad Fattah Aziiz saat diwawancarai Tribun Jabar, di kantor Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung (LPIK-ITB), Jalan Ganesha, Bandung, pada Rabu (4/10/2017).

Sistem perlindungan tower transmisi ini, lanjut Fattah, terdiri dari empat alat atau komponen, yaitu Finial, Isolator, Penghantar Turun, dan Elektroda Pentahanan.

Cara kerjanya, jika ada petir yang menyambar, tower transmisi tidak akan mengalami gangguan karena tegangan listrik langsung diisolasi melalui alat bernama Finial dan Isolator tadi, lalu dialirkan ke bawah tanah oleh Penghantar Turun, kemudian, di bawah tanah listrik dari petir akan dinetralkan oleh Elektroda Pentanahan.

Jarak Elektroda Pentahanan dari tower akan ditempatkan cukup jauh. Yakni, sekitar 3-5 meter.

Biasanya, sambung Fattah, selama ini tower transmisi yang belum memiliki sistem perlindungan yang baik akan mengalami gangguan karena listrik dari sambaran petir tidak diisolasi.

"Listrik dari sambaran petir tidak diisolasi. Bahkan dialirkan ke tanah yang berdekatan dengan lokasi tower-nya. Jadinya listriknya masih ada di sekitaran tower itu," ujar Fattah.
Dipakai PLN Kupang
Hingga saat ini, kata Fattah, inovasi yang diciptakan oleh timnya telah diaplikasikan pada beberapa tower transmisi milik PLN Kupang.

Timnya pun masih berusaha untuk memasarkan pada beberapa PLN di tiap daerah secara langsung.

"Keunggulan sistem kami. Harganya jauh lebih murah dari kompetitor. Kalau kompetitor harganya bisa di atas Rp 200 juta. Kalau kami berada di kisaran Rp 80-100 juta karena semua komponen buatan dalam negeri," ujar Fattah.

Inovasi ini pun, sambung Fattah, sudah dikembangkan sejak akhir tahun 2015.

"Sekarang kami sedang proses mendaftarkan hak paten atas nama ITB. Karena kami (Tesla Daya Elektrika) juga masih terdaftar sebagai tenant (penyewa) di LPIK ITB. Pendaftarannya sudah sejak awal 2016. " ujar Fattah.

Produk inovasi yang mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan ITB ini juga telah meraih juara pertama dalam kompetisi Swiss Innovation Challenge 2017, di Sheraton Bandung Hotel & Towers, Jumat (22/09/2017).

Akhir bulan Oktober ini, Fattah akan berangkat ke Swiss untuk memaparkan produk inovasinya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved