Minggu, 12 April 2026

Eksklusif Tribun Jabar

Tentang Aplikasi Berbasis Internet, Ridwan Kamil: Tanya Warga, Manfaatnya Terasa atau Tidak?

"Makanya itu alasan kami jarang meeting (rapat) karena bisa dibereskan dengan software," ujar Emil.

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Ravianto
Tribunjabar/Muhamad Nandri Prilatama
Sejumlah siswa dan orangtua siswa di Kota Bandung hadir dalam launching aplikasi "toong siswa", di Balai Kota, Jalan Wastukancana, Senin (22/5/2017) 

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - WALI Kota Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan semua aplikasi yang telah mereka luncurkan dibuat sesuai dengan permasalahan yang terjadi di Kota Bandung.

"Jumlah aplikasi itu sebanyak jumlah masalah. Jika masalahnya ada 100, maka aplikasinya juga dibuat 100. Jika ditanya optimalkah, ya, sudah optimal. Hanya, kan, kami tanya lagi ke warga, manfaatnya terasa atau tidak?" ucap Emil, sapaannya, di Balai Kota, Selasa (19/9).

Dengan adanya berbagai software ini, kata Emil, pergerakan Pemkot dapat lebih cepat, terutama untuk meningkatkan birokrasi dan pelayanan masyarakat.

"Makanya itu alasan kami jarang meeting (rapat) karena bisa dibereskan dengan software," ujar Emil.


Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung, Ahyani Raksa Negara, mengatakan konsep smart city yang diusung Kota Bandung memang pada dasarnya untuk mengembangkan suatu kota dengan menggunakan strategi ilmu teknologi (IT).

Dengan teknologi tersebut, kata Ahyani, diharapkan dapat lebih efisien, mudah, dan transparan.

"Tujuan kami dengan smart city ini, ya, untuk birokrasi dan pelayanan publik," ucap Ahyani di Jalan Asia Afrika, Sabtu (23/9).

Mengenai efektivitas ratusan aplikasi yang dimiliki Pemkot, Ahyani mengatakan, efektivitas ratusan software itu sebenarnya dapat diukur secara objektif.

Ia mengambil contoh aplikasi yang digunakan di bagian perizinan jelas telah berfungsi, ditunjukkan dengan tidak ada lagi antrean saat mengurus perizinan.

"Sekarang, warga juga lebih mudah membayar pajak karena sudah melalui sistem online sehingga tidak membuang banyak waktu," ujarnya.

Namun, Ahyani juga tak memungkiri ada sebagian aplikasi yang belum berjalan seperti yang diharapkan. Itu, ujarnya, terus dievaluasi.

Selain itu, kata Ahyani, Pemkot terus berupaya melakukan integrasi secara bertahap agar antarsistem tidak berulang dalam memasukkan data.

"Itulah yang menjadi program prioritas guna mengintegrasikan yang sudah ada. Jadi, jika berkurang jumlah aplikasinya, bukan berarti dimatikan, tapi memang ukurannya, bukan banyaknya aplikasi, meski pada awalnya iya soal itu. Sekarang itu fokusnya diintegrasikan," ujar Ahyani seraya menyebut dinas yang paling efektif untuk software adalah dinas yang langsung berhubungan dengan masyarakat, seperti perizinan, pajak, dan pendidikan, yakni saat penerimaan siswa baru.

Pemkot Bandung, kata Ahyani, juga sering memberikan hibah software kepada daerah lain di Indonesia, dengan alasan ingin maju bersama-sama dengan mengurangi kompetisi dan memperbanyak berkolaborasi.

"Itu yang diingatkan Pak Wali Kota Ridwan Kamil dalam visinya. Jika daerah lain ingin mengembangkan smart city dan memulainya dari awal, kan, panjang waktunya. Maka yang sudah ada ini tinggal diadopsi jika memang sesuai dengan kondisi di wilayahnya," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved