Perkenalkan Seni Tradisional Sambil Galang Dana
Di tengah ramainya Car Free Day (CFD) atau Hari Tanpa Kendaraan di kawasan Dago, terdapat beberapa pemuda yang sedang . . .
Penulis: Rezeqi Hardam Saputro | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Rezeqi Hardam Saputro
TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Di tengah ramainya Car Free Day (CFD) atau Hari Tanpa Kendaraan di kawasan Dago, terdapat beberapa pemuda yang sedang menggalang dana.
Terlihat cara para pemuda tersebut menggalang dana sedikit berbeda dari penggalangan dana yang biasa ditemui di CFD Dago.
Pantauan Tribun Jabar, Minggu (24/9/2017) mendapatkan dua orang pemuda mengenakan sebuah topeng menyeruapi barong dan juga mengenakan jubah berbahan karung goni berwarna cokelat.
Usai Makan Ala Warteg di London, Maia dan El 'Menggila' Saat Makan Kecoa. Reaksinya Bikin Bergidik! https://t.co/CYSGx9mLS9 via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) September 25, 2017
Bukanya hanya itu, terlihat pemuda lainnya membawa alat musik tradisional Sunda berupa beberapa kendang.
Sambil memainkan alat musik tersebut, terlihat dua pemuda yang mengenakan topeng dan jubah berjoget mengitari kawasan CFD Dago.
Saat ditemui wartawan Tribun Jabar, Ahmad Taufik satu di antara pemuda tersebut mengatakan ia dan kawan-kawannya berasal dari komunitas Real Fams Struggle (RFS).
"Kami dari komunitas RFS yang sering melakukan kegiatan penggalangan dana untuk beberapa panti asuhan," ujar Ahmad.
Ahmad juga mengatakan penggelangan dana yang dilakukan oleh RFS sedikit berbeda.
RFS mengamen dengan membawakan seni Reak yang juga diiringi musik khas Jawa Barat, lanjut Ahmad.
Saat ditanya mengapa memilih seni reak, Ahmad mengatakan ia dan teman-temannya ingin juga melestarikan kesenian yang terlupakan tersebut.
Sempat Heboh Soal Foto Ciuman, Mantan Aktor Cilik Ini Segera Menikah. Netizen: Agak Aneh! https://t.co/XNL5aTa69J via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) September 25, 2017
"Selain penggalangan dana, kami juga ingin memperkenalkan kembali seni reak yang merupakan khas Jawa Barat ke masyarakat kota," ujar Ahmad.
Ahmad mengatakan jika di perkampungan, mengamen dengan membawakan seni reak terbilang masih biasa.
Sedangkan di kota, lanjut Ahmad, banyak masyarakat yang malah takut melihat seni reak karena topengnya yang mungkin menyeramkan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sejumlah-anak-muda-membawakan-seni-reak-di-cfd-dago-minggu-2492017_20170925_094231.jpg)