Perkenalkan Seni Tradisional Sambil Galang Dana

Di tengah ramainya Car Free Day (CFD) atau Hari Tanpa Kendaraan di kawasan Dago, terdapat beberapa pemuda yang sedang . . .

Penulis: Rezeqi Hardam Saputro | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR/Rezeqi Hardam Saputro
Sejumlah anak muda membawakan seni Reak untuk penggalangan dan lestarikan seni tradisional di CFD Dago, Minggu (24/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Rezeqi Hardam Saputro

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Di tengah ramainya Car Free Day (CFD) atau Hari Tanpa Kendaraan di kawasan Dago, terdapat beberapa pemuda yang sedang menggalang dana.

Terlihat cara para pemuda tersebut menggalang dana sedikit berbeda dari penggalangan dana yang biasa ditemui di CFD Dago.

Pantauan Tribun Jabar, Minggu (24/9/2017) mendapatkan dua orang pemuda mengenakan sebuah topeng menyeruapi barong dan juga mengenakan jubah berbahan karung goni berwarna cokelat.


Bukanya hanya itu, terlihat pemuda lainnya membawa alat musik tradisional Sunda berupa beberapa kendang.

Sambil memainkan alat musik tersebut, terlihat dua pemuda yang mengenakan topeng dan jubah berjoget mengitari kawasan CFD Dago.

Saat ditemui wartawan Tribun Jabar, Ahmad Taufik satu di antara pemuda tersebut mengatakan ia dan kawan-kawannya berasal dari komunitas Real Fams Struggle (RFS).

ILUSTRASI: PENTAS SENI REAK - Salah satu perkumpulan reak unjuk kebolehan dalam Gebyar Seni Tradisional Reak Kudalumping Se-Bandung Timur di Lapangan Kampung Jati, Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Minggu (12/10). Gelaran reak ini diikuti 10 perkumpulan yang berasal dari Kota dan Kabupaten Bandung dengan tujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian rakyat asli dari Cibiru tersebut menjadi kesenian yang layak tampil, layak tonton dan layak jual.
ILUSTRASI: PENTAS SENI REAK - Salah satu perkumpulan reak unjuk kebolehan dalam Gebyar Seni Tradisional Reak Kudalumping Se-Bandung Timur di Lapangan Kampung Jati, Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Minggu (12/10). Gelaran reak ini diikuti 10 perkumpulan yang berasal dari Kota dan Kabupaten Bandung dengan tujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian rakyat asli dari Cibiru tersebut menjadi kesenian yang layak tampil, layak tonton dan layak jual. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

"Kami dari komunitas RFS yang sering melakukan kegiatan penggalangan dana untuk beberapa panti asuhan," ujar Ahmad.

Ahmad juga mengatakan penggelangan dana yang dilakukan oleh RFS sedikit berbeda.

RFS mengamen dengan membawakan seni Reak yang juga diiringi musik khas Jawa Barat, lanjut Ahmad.

Saat ditanya mengapa memilih seni reak, Ahmad mengatakan ia dan teman-temannya ingin juga melestarikan kesenian yang terlupakan tersebut.


"Selain penggalangan dana, kami juga ingin memperkenalkan kembali seni reak  yang merupakan khas Jawa Barat ke masyarakat kota," ujar Ahmad.

Ahmad mengatakan jika di perkampungan, mengamen dengan membawakan seni reak terbilang masih biasa.

Sedangkan di kota, lanjut Ahmad, banyak masyarakat yang malah takut melihat seni reak karena topengnya yang mungkin menyeramkan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved