Tanda-tanda Gunung Agung Meletus Semakin Terlihat, Binatang Liar Mulai Turun
Kantung magma masih tetap tapi fluida sudah naik ke permukaan dan rentetan gempa semakin intensif
TRIBUNJABAR.CO.ID, KARANGASEM - Tanda-tanda Gunung Agung bakal meletus semakin terlihat.
Puluhan binatang liar seperti kera dan ular sudah mulai turun gunung. Kegempaan meningkat tajam.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pun tadi malam menetapkan status Gunung Agung naik dari Siaga (Level II) ke Awas (Level IV), yang merupakan tingkatan status tertinggi gunung berapi.
"Dengan ini kami sampaikan bahwa kita meningkatkan status Gunung Agung dari Siaga menjadi Awas atau Level IV. Mulai malam ini (tadi malam) status Awas pukul 20.30 Wita. Radius tadinya 6 jadi 9, yang sektoral dari 7 menjadi 12," kata Kepala PVMBG, Kasbani, di Pos Pengamatan Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem.
Artis Ini Dikabarkan Hamil Duluan, Sang Suami Curhat Pengakuan Mengejutkan Soal Istrinya: Ya Tuhan https://t.co/YswdZKJ8Ng via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) September 24, 2017
Dari pemantauan pos tadi malam, Gunung Agung tak terlihat.
Gunung tertinggi di Bali ini tertutup awan tebal dan turun rintik hujan.
"Kantung magma masih tetap tapi fluida sudah naik ke permukaan dan rentetan gempa semakin intensif, tapi masih belum tahu meletusnya kapan," tambah Kasbani.
Senada dengan Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, I Gede Suantika.
Menurutnya, secara visual belum tampak kepulan abu di puncak Gunung Agung tapi kegempaan terus meningkat tajam sejak tiga hari terakhir.
"Hari ini (kemarin), meningkat tajam. Dari situ akhirnya disimpulkan kenaikan status dari Siaga ke Awas pada pukul 20.30 Wita," ungkapnya.
Asal-usul Pasar Kaget, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Belanda Lho! https://t.co/CaQox2B4VW via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) September 24, 2017
Rekomendasi PVMBG adalah masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 9 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 kilometer.
Di dalam radius ini tidak boleh ada wisatawan atau aktivitas masyarakat di dalamnya.
Kepala PVMBG telah melaporkan kenaikan status Awas tersebut kepada Kepala BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD kabupaten di sekitar Gunung Agung untuk diambil antisipasi.
Dengan peningkatan status Awas, Kepala Pelaksana Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Dewa Made Indra, mengingatkan warga untuk tidak melakukan aktivitas di daerah bahaya.
"Zona merah di radius 9 km plus sektoral barat daya, selatan, tenggara, timurlaut, dan utara sejauh 12 km," ujarnya.
Pada Jumat (22/9/2017) kemarin, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung terus meningkat.
Magma di dalam kawah terus naik ke permukaan.
Baca: Aku yang Membunuh Kakekmu, Ayo Kalau Mau Balas Dendam, dan Bungkas Pun Tewas
Baca: Ditahan Bhayangkara FC 1-1, Persib Bandung Paling Hebat untuk Urusan Ini
Gempa tektonik lokal mulai dirasakan warga yang berada di kawasan rawan bencana III, II, I (KRB I). Seperti di Kecamatan Kubu, Rendang, Manggis, dan Karangasem.
Kasbani menjelaskan, gempa hampir mencapai 600 kali.
Sedangkan dalam periode pukul 00.00-12.00 Wita terjadi 58 gempa vulkanik dangkal, 318 kali gempa vulkanik dalam, dan 44 kali gempa tektonik lokal.
Amplitudo vulkanik dalam masih stagnan rata-rata 4 sampai 8 mm.
Untuk vulkanik dangkal amplitudo 3-5 MM, durasinya 10-11 detik. Gempa tektonik lokal amplitudonya 7-8 MM, durasi mengalami peningkatan drastis dari 30-47 detik menjadi 36-89 detik.
Kasbani menambahkan, magma terus naik ke permukaan. Asap kawah mulai naik ke atas, dan menutupi gunung agung.
"Sekarang masih tinggi-tingginya (gempa). Setiap hari aktivitasnya lebih tinggi dibanding hari sebelumnya. Sejak ditetapkan level II (Waspada) tanggal 14 September, jumlah gempa puluhan. Saat meningkat ke Siaga, jumlah gempa naik hingga ratusan kali," katanya.
Seperti diketahui, energi yang dihasilkan dari aktivitas magma di bawah kawah Gunung Agung cukup tinggi.
Itu bisa diprediksi dari jarak waktu letusan pada 54 tahun silam, dari tahun 1963.
Karakter Gunung Agung sangat eksplosif, berbeda dengan gunung berapi lainnya yang berada di Indonesia.
Dilihat dari frekuensi gempa serta kekuatan amplitudo, perubahannya begitu cepat dan meningkat begitu tajam.
Perubahan yang ditunjukkan Gunung Agung sangat berpotensi ke arah letusan.
"Tapi belum bisa dipastikan kapan terjadi letusan. Petugas akan terus membaca tanda-tanda dari gunung," tandas Kasbani.
Tanda dari Binatang
Sementara itu, sejumlah binatang yang selama ini hidup di kawasan puncak Gunung Agung dikabarkan sudah mulai turun ke lereng gunung.
Binatang-binatang tersebut masuk ke pemukiman warga. Bendesa Adat Sogra, Kecamatan Selat, Jro Mangku Wayan Sukra, mengatakan binatang seperti monyet dan ular sudah mulai keluar sejak tiga hari lalu.
"Mungkin kepanasan di atas Gunung Agung," kata Jro Mangku Sukra, Jumat (22/9/2017).
Pria yang juga Panglingsir Pura Pasar Agung, Desa Adat Sogra, ini menjelaskan, turunnya binatang dari puncak gunung merupakan tanda akan terjadi erupsi.
Biasanya antara 1-3 bulan sebelum erupsi, katanya, hewan di gunung turun dan masuk ke rumah warga.
Dikatakan, sebelum Gunung Agung erupsi tahun 1963, binatang buas di atas gunung juga keluar.
Seperti macan, ular, kera, dan binatang unik yang jarang ditemukan di pemukiman warga.
"Hewan yang turun jumlahnya masih sedikit, bisa dihitung. Kebanyakan hewan turun hingga di parkiran Pura Pasar Agung. Mungkin ini tanda-tanda gunung akan meletus. Kondisi ini tidak seperti biasanya," aku Jro Mangku Sukra.
Untuk tanda lainnya masih belum tampak.
Seperti hujan abu yang membuat gatal dan luka jika menempel di badan.