Krisis Kemanusiaan Rohingya

Muslim Rohingya: Militer Menyuruh Kami Masuk Rumah Lalu Dilempari Bom

Puluhan ribu orang Rohingya telah meninggalkan negara bagian Rakhine, Myanmar, menyelamatkan. . .

STR/AFP/Getty Images /Tribunnews.com
Pengungsi Rohingya meminta makanan di kamp pengungsian Ukhiya dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar. Dalam sepekan konflik kekerasan, PBB memperkirakan sudah ada 87.000 pengungsi Rohingya yang masuk ke Bangladesh 

TRIBUNJABAR.CO.ID - Puluhan ribu orang Rohingya telah meninggalkan negara bagian Rakhine, Myanmar, menyelamatkan diri dari kekerasan.

Banyak dari mereka berkisah tentang pembunuhan, pemerkosaan dan bahkan pembantaian.

Di lepas pantai selatan Bangladesh, deretan kapal nelayan berbentuk melengkung bagai sabit bergerak mendekati pantai, menentang angin kencang yang berbahaya.


Perempuan di lantai perahu, sebagian bersama anak-anak, kaum laki-laki dewasa berjejer di tepi perahu.

Nabi Hasan dan kakaknya Rohima Khatun sebelumnya tak tahu bahwa mreka akan bisa bertemu lagi satu sama lain dalam keadaan hidup.
Nabi Hasan dan kakaknya Rohima Khatun sebelumnya tak tahu bahwa mreka akan bisa bertemu lagi satu sama lain dalam keadaan hidup. (BBC)

Inilah kapal bermuatan kaum Muslim Rohingya, yang melarikan diri dari negara bagian Takhine, Myanmar.

Warga Bangladesh di kampung itu berkumpul di tepi pantai dengan resah. "Lewat sini, ke sini!" teriak mereka sambil menuntun perahu ke perairan dangkal.

Begitu menyentuh garis pantai dekat Shamlapur itu, sejumlah pria melompat.

Para wanita dan anak-anak dibantu turun. Ada pasangan yang hampir jatuh saat kaki mereka tersandung.

Rute langsung melintasi sungai Naf tidak dapat diakses lagi. Pihak berwenang Bangladesh telah menutup jalur itu untuk mencegah kedatangan kaum Rohingya dari arah itu setelah beberapa orang minoritas Muslim Myanmar itu tenggelam dalam upaya mereeka menyeberangi perbatasan.

Jadi mereka mengambil jalan memutar, menuju ke laut terlebih dahulu sebelum kembali. Sebuah perjalanan yang harusnya memakan waktu kurang dari satu jam jadi harus menempuh sekitar enam sampai delapan.

Saat orang-orang Rohingya tu mencapai pantai, mereka langsung ambruk bertumpang tindih. Banyak yang terlihat linglung dan bingung setelah menempuh pelayaran. Yang lainnya tampak mengalami dehidrasi, beberapa muntah-muntah.


Ada pula, juga kaum pria, yang kemudian terisak tak terkendali, tubuh mereka terengah-engah. Mereka seakan tidak percaya bahwa mereka hidup. Yang lain dipinjami telepon genggam oleh penduduk setempat sehingga mereka bisa menelpon keluarga trcinta dan mengabarkan keberhasilan mereka mencapai Bangladesh.

Seorang perempuan paruh baya, yang berpakaian hitam, menatap cakrawala dengan cemas, dengan tangan melindungi matanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved