Jumat, 10 April 2026

Ibadah Haji dan Kurban

Penyembelihan Hewan Kurban di Darut Taubah Saritem Diwarnai Muncratan Darah

Sepintas menyeramkan, namun cukup seru untuk dilihat bersama-sama, karena momen penyembelihan hewan kurban hanya bisa disaksikan setahun sekali.

Penulis: Fasko dehotman | Editor: Jannisha Rosmana Dewi
TRIBUNJABAR.CO.ID/FASKO DEHOTMAN
Hewan kurban yang disembelih di Pondok Pesantren Darut Taubah Kawasan Saritem dikerubungi warga, Jumat (1/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fasko Dehotman

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Seperti biasanya, setelah menunaikan Salat Iduladha, umat Islam di dunia melakukan kegiatan penyembelihan hewan kurban.

Kegiatan ini sudah menjadi tradisi turun temurun, untuk membagikan potongan hewan kurban ke masyarakat.

Untuk setiap daerah, tentunya memiliki tingkat keseruan masing-masing, saat menyaksikan hewan kurban disembelih.

Seperti di Pondok Pesantren Darut Taubah Kawasan Saritem ini.

Beberapa hewan kurban seperti sapi dan kambing, darahnya muncrat-muncrat sesaat setelah disembelih.

Muncratan darahnya membanjiri tangan si tukang jagal hingga ke bajunya.

Bahkan, muncratan darahnya juga mengenai pengunjung yang berada di bagian depan.

Sontak, para pengunjung yang menyaksikan lari terbirit-birit menghindari cipratan darah tersebut.


Sepintas menyeramkan, namun cukup seru untuk dilihat bersama-sama, karena momen penyembelihan hewan kurban hanya bisa disaksikan setahun sekali.

Jumlah hewan kurban di Pondok Pesantren Darut Taubah berjumlah sembilan ekor.

Hewan kurban tersebut terdiri dari dua ekor sapi dan tujuh ekor domba.

Ustaz Wawan selaku penyemblih hewan kurban menuturkan darah yang muncrat hingga jauhnya dikarenakan si hewan kurban yang meronta-ronta saat setelah disembelih.

"Biasanya hewan kurban jenis sapi lah yang paling banyak cipratan darahnya, karena memiliki rongga tenggorokan yang lebih besar," jelas Wawan kepada Tribun Jabar, Jumat (1/9/2017).

Perihal domba yang disembelih, Wawan mengatakan, di Pondok Pesantren Darut Taubah Kawasan Saritem, masyarakatnya memang lebih menyukai Domba, meskipun harganya cukup mahal.

"Hal ini memang seperti itu dari dulunya, bukan karena dagingnya, karena kebiasaan masyarakat sendiri yang terbiasa mengkurbankan daging domba," ujar Wawan.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved