Disperindag Kabupaten Bandung Upayakan Penetapan HET Beras Tidak Rugikan Pengecer

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bandung akan melakukan kajian mendalam mengenai wacana . . .

Disperindag Kabupaten Bandung Upayakan Penetapan HET Beras Tidak Rugikan Pengecer
TRIBUN JABAR/YUDHA MAULANA
Pengecer beras di Pasar Soreang berharap kebijakan Kementerian Perdagangan dalam menetapka harga eceram tertinggi (HET) yang berlaku pada 1 September 2017 tidak merugikan pengecer. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yudha Maulana

TRIBUNJABAR.CO.ID, SOREANG - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bandung akan melakukan kajian mendalam mengenai wacana penetapan harga eceran tertinggi (HET) beras untuk komoditas beras kualitas medium dan premium. Penetapan itu mulai berlaku 1 September 2017 mendatang.

Kepala Disperindag Kabupaten Bandung, Popi Hopipah, mengatakan dengan ditetapkannya HET, justru akan menguntungkan para petani yang telah memiliki harga standar penjualan, justru yang kini ia soroti adalah para pedagang di tingkat eceran.

Baca: Orang Tua Berhaji, Karyawati BUMN Dirampok dan Diperkosa ketika Sendirian di Rumah

"Kami akan segera mendiskusikan ini, karena ini menyangkut ketahanan pangan, pertanian karena ini berhubungan dengan HET, hingga saat ini kami belum menerima SK (surat keputusan) tentang HET itu," kata Popi saat ditemui di Gedung Moh Toha, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (30/8/2017).

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menetapkan HET beras kualitas medium untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi sebesar Rp 9.450 perkilogram, sedangkan untuk beras kualitas premium sebesar Rp. 12.800. Harga tersebut ditetapkan Mendag untuk daerah produsen beras.


Sedangkan untuk wilayah Sumatera, tidak termasuk Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan untuk beras premium Rp. 13.300 dan Rp 9.950 untuk beras medium.

"Ini yang harus diperhatikan adalah stok beras yang telah dimiliki oleh para pedagang di gudang, biasanya mereka memiliki stok sejak satu bulan yang lalu, hal ini akan kami bicarakan dengan pihak BKP3 (Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan) dan tim," ucap Popi.

Mendag membuat spesifikasi dalam pengkategorian beras. Beras jenis medium memiliki derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen dan butir patah maksimal 25 persen. Sedangkan untuk beras premium, adalah beras yang memiliki kadar air maksimal 14 persen, derajat sosoh 95 persen dan butir patah maksimal 15 persen.


Beras tersebut wajib dikemas dengan melampirkan label medium atau premium, sesuai klasifikasi masing-masing."Beras yang dijual di Kabupaten Bandung itu kan banyak jenisnya, seperti beras IR, Pandan Wangi dan sebagainya, itu harus dijual dalam satu nama (kategori) kan di pasar, harus kita kategorisasikan dulu sebelum disosialiasikan ke pedagang," katanya.

Popi menuturkan, pihaknya belum memiliki data harga beras terbaru. Kendati demikian, pihaknya akan segera menurunkan tim untuk mengecek langsung ke pasar.

Pantauan Tribun di Pasar Soreang, Kabupaten Bandung harga Mentik Wangi dijual Rp 13.000 perkilogram, Pandan Wangi Rp 12.000 - Rp12.500 per kilogram, beras Soreang 12.500 per kilogram. "Jangan sampai merugikan bagi penjual," ujar Popi. (*)

Penulis: Yudha Maulana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved