Minggu, 24 Mei 2026

Kuliner Bandung

Pedas dan Gurihnya Sate Padang Pak Datuk, Rasanya Bikin Ketagihan

Aroma rempah yang kuat pada kuah sate Padang, mencerminkan kelihaian orang Minang dalam. . .

Tayang:
Penulis: Fasko dehotman | Editor: Fauzie Pradita Abbas
Tribun Jabar/Fasko Dehotman
Sajian Sate Padang Pak Datuk 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fasko Dehotman

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Kuliner di Bandung tidak hanya menawarkan olahan khas Sunda saja.

Kota yang dijuluki Kota kembang ini turut menyediakan beragam olahan nusantara lainnya.

Satu di antaranya yang tidak asing di lidah masyarakat adalah sate.

Selain sate Madura, Kota Bandung Juga menyediakan olahan sate Padang yang menggoyang lidah.


Sate Padang ini tentunya berbeda dengan sate Madura, yang dominan manis dan banyaknya bumbu kacang.

Justru sate Padang memiliki cita rasa pedas dan kaya bumbu rempah di dalamnya.

Sate Padang dapat merepresentasikan karakteristik umum hidangan tradisional Minangkabau.

Aroma rempah yang kuat pada kuah sate Padang, mencerminkan kelihaian orang Minang dalam mengolah bumbu.

Meskipun pedas, cita rasa khas dari sate Padang pun terbukti mampu menembus batas geografis, sehingga disukai pula oleh masyarakat di daerah lain.

Tak salah jika sate Padang, dianggap sebagai penghuni kasta tertinggi dalam khasanah kuliner Nusantara.

Nah, satu di antara olahan sate Padang yang cukup terkenal di Bandung adalah Warung Sate Pak Datuk.

Sate ini mangkal di Jalan Cikapundung Timur, tepat samping gedung PLN Bandung.

Warung Sate Pak Datuk mudah dikenali dari spanduk putihnya yang mencetak tulisan besar-besar “SATE PADANG PAK DATUK” tanpa banyak hiasan lain.

Kedai Sate Padang Pak Datuk
Kedai Sate Padang Pak Datuk (Tribun Jabar/Fasko Dehotman)

Di dalamnya selain gerobak sate, tersedia beberapa meja dan bangku panjang yang muat hingga 10 orang saling berhadapan.

Asyiknya lagi, di warung ini tersedia tv, meski sering kali enak-enak nonton sambil makan terganggu oleh pengamen yang silih ganti berdatangan.


Satenya betul-betul mantap, pengunjung bisa memilih sate daging atau campur dengan jeroan (lidah sapi) dan dijamin tidak alot.

Dari segi rasa, olahan Sate Pak Datuk ini tidak perlu di ragukan lagi.

Aroma khas dari kunyit dan sereh memberi kesan pertama yang menggoda.

Irisan daging dan lidah sapi yang diselimuti kuah kental kekuningan seakan merayu untuk segera disantap.

Potongan ketupat yang tersembunyi di balik siraman kuah sate, dan semerbak wangi bawang goreng semakin membangkitkan selera.

Inilah kira-kira yang terjadi saat seporsi sate Padang terhidang di depan hidung Anda.

Kekhasan sate dari ini adalah penggunaan daging dan lidah sapi sebagai bahan dasarnya.

Di samping daging dan lidah, jeroan seperti usus, paru, dan jantung sapi juga umum digunakan.

Ciri khas lain dari Sate adalah kuah bumbunya yang terdiri dari racikan bawang putih, bawang merah, cabai merah, jahe, kunyit, sereh, dan bumbu-bumbu lainnya.

Kemudian bumbu tersebut dimasak bersama kaldu sapi, kemudian dikentalkan dengan tepung beras.

Dari rempah-rempah tersebut, sensasi panas di kerongkongan muncul, badan pun menjadi hangat.

Tak jarang membuat keringat bercucuran dan hidung meler.

Jika ingin menambahkan tekstur crunchy Anda dapat menaburkan kripik balado khas Minang.

Zulkifli selaku penerus Sate Padang Pak Datuk, menuturkan, sate Padang ini, pertama kali dijajakan oleh Pak Datuk pada1970 di sekitar Jalan ABC, dekat jembatan Cikapundung.

Kemudian, Sate Padang Pak Datuk pindah ke ruas Jalan Cikapundung sejak 1980.

"Saat ini, Sate Padang Pak Datuk masih bertahan di Cikapundung, dan dilajutkan oleh saya sebegai generasi ketiga," ujar Zulkifli kepada Tribun Jabar, Senin (28/8/2017).

Zulkifli menambahkan, sate padang yang dijualnya merupakan ala Bukittinggi.

"Ciri khasnya adalah rasa kuah yang didominasi pedas dan agak asin, dan berwarna kuning," jelas Zulkifli.

"Ketika dicicipi, rasanya pedas, sangat nendang untuk pecinta rasa pedas," tambah Zulkifli.

Untuk penyajiannya, Zulkifli mengaku, sebelum dibakar, daging terlebih dahulu direbus, kemudian dipotong-potong kecil dan ditusuk.

"Ketika ada yang pesan, sate dibakar untuk menimbulkan aroma harum dan tekstur lebih kenyal," ujar Zulkifli.

Bagi Anda yang penasaran mencicipinya, Sate Padan Pak Datuk dihargai Rp 28.000 per porsinya.

Disantap bersama kuah yang hangat, nyam! Rasanya lezat dan cukup mengenyangkan.

Sedangkan jam operasionalnya, Sate Padang Pak Datuk dibuka setiap hari pada pukul 17.30 - 00.00 WIB. (Fasko) 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved