Kuliner Bandung
Pedas dan Gurihnya Sate Padang Pak Datuk, Rasanya Bikin Ketagihan
Aroma rempah yang kuat pada kuah sate Padang, mencerminkan kelihaian orang Minang dalam. . .
Penulis: Fasko dehotman | Editor: Fauzie Pradita Abbas
Di dalamnya selain gerobak sate, tersedia beberapa meja dan bangku panjang yang muat hingga 10 orang saling berhadapan.
Asyiknya lagi, di warung ini tersedia tv, meski sering kali enak-enak nonton sambil makan terganggu oleh pengamen yang silih ganti berdatangan.
Kisah Nenek Tembok -Di Usia 75 Tahun Masih Harus Bekerja dan Masih Punya Ibu yang Harus Dibiayainya https://t.co/lsRKCOuQPr via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) August 27, 2017
Satenya betul-betul mantap, pengunjung bisa memilih sate daging atau campur dengan jeroan (lidah sapi) dan dijamin tidak alot.
Dari segi rasa, olahan Sate Pak Datuk ini tidak perlu di ragukan lagi.
Aroma khas dari kunyit dan sereh memberi kesan pertama yang menggoda.
Irisan daging dan lidah sapi yang diselimuti kuah kental kekuningan seakan merayu untuk segera disantap.
Potongan ketupat yang tersembunyi di balik siraman kuah sate, dan semerbak wangi bawang goreng semakin membangkitkan selera.
Inilah kira-kira yang terjadi saat seporsi sate Padang terhidang di depan hidung Anda.
Kekhasan sate dari ini adalah penggunaan daging dan lidah sapi sebagai bahan dasarnya.
Di samping daging dan lidah, jeroan seperti usus, paru, dan jantung sapi juga umum digunakan.
Ciri khas lain dari Sate adalah kuah bumbunya yang terdiri dari racikan bawang putih, bawang merah, cabai merah, jahe, kunyit, sereh, dan bumbu-bumbu lainnya.
Kemudian bumbu tersebut dimasak bersama kaldu sapi, kemudian dikentalkan dengan tepung beras.
Dari rempah-rempah tersebut, sensasi panas di kerongkongan muncul, badan pun menjadi hangat.
Tak jarang membuat keringat bercucuran dan hidung meler.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sate-padang_20170828_202252.jpg)