Minggu, 19 April 2026

Demi Temani Suami yang Pemulung, Ibu Ini Rela Tidur di Bekas Gerobak Berukuran Mini

Bekas gerobak kayu dilapisi seng yang berukuran panjang sekira dua meter dan lebar serta tinggi satu meter, menjadi rumah kedua bagi . . .

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR/HILMAN KAMALUDIN
Yayah istri pemulung yang setia menunggu suaminya di bekas gerobak, di Jalan Cilaki, Kota Bandung, Senin (14/8/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Bekas gerobak kayu dilapisi seng yang berukuran panjang sekira dua meter dan lebar serta tinggi satu meter, menjadi rumah kedua bagi Yayah (60) untuk menunggu suaminya pulang memulung.

Di dalam gerobak itu tidak ada makanan atau pun minuman, yang ada hanyalah selimut dan bantal kecil untuk tidur.

"Setiap hari saya tidur di sini, kalau suami (tidur) di mana saja yang penting dekat dengan saya," ujar Yayah kepada TribunJabar.co.id di Jalan Cilaki, Kota Bandung, Senin (14/8/2017).

Baca: VIDEO-- Keren! Goldstar Cave, Kafe Berkonsep Gua yang Terinspirasi Yunani

Ketika malam hari, ia tidur sendiri di bekas gerobak tersebut dan suaminya tidur ditenda pedagang kaki lima yang tak jauh dari bekas gerobak yang dipakai tidur Yayah.

Gerobak itu hanya dilapisi terpal bekas agar tidak kepanasan dan saat hujan tidak kehujanan.


Hidup sebagai manusia gerobak dijalani Yayah dan suaminya dengan segala kekurangan, padahal ia mengaku memiliki rumah di Jalan, Cihaurgeulis, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung.

Ia mengaku jarang pulang ke rumahnya karena tidak tega kalau suaminya memulung sendirian.

Jadi ia lebih memilih tidur di gerobak dengan segala kekurangan untuk menunggu suaminya.


"Saya tidak ikut mulung, hanya bantuin membereskan hasil mulung suami saya disini," ujar Yayah.

Meski penghasilan suaminya menjadi pemulung masih jauh dari kata cukup, ia tetap setia menemaninya dan membantu mengumpulkan bekas dus di Jalan Cilaki, Kota Bandung.

Penghasilan suaminya dalam sehari hanya Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per hari.

Selama 12 tahun Yayah lebih memilih menjadi manusia gerobak, dari pagi hingga malam ia setia menunggu suaminya di bekas gerobak.

Wanita asal Cirebon ini, menghabiskan hari-harinya di bekas gerobak tersebut dan untuk mandi ia mencari masjid yang terdekat. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved