Sabtu, 11 April 2026

Fenomena Anak Berambut Gimbal di Dieng: Jadi Kesayangan Para Leluhur

Fenomena anak gimbal di dataran tinggi Wonosobo hingga Dieng itu tak lepas dari legenda Kiai Kolodete.

Editor: Ravianto
DOKUMENTASI TRIBUN JATENG
Anak-anak gimbal Dieng sebelum diruwat atau dicukur rambutnya saat Dieng Culture Festival. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJABAR.CO.ID, WONOSOBO - Sebanyak 11 bocah berambut gimbal menjalani ritual pencukuran di kompleks Telaga Menjer Wonosobo, Sabtu (29/7/2017).

Mereka berasal dari berbagai desa yang tersebar di sejumlah kecamatan di Wonosobo.
Kemunculan anak berambut gimbal ini masih menyimpan teka-teki hingga sekarang.

Fenomena anak gimbal di dataran tinggi Wonosobo hingga Dieng itu tak lepas dari legenda Kiai Kolodete.

Sesepuh Adat Wonosobo Sarno Kusnandar berkisah anak-anak berambut gimbal di dataran tinggi Wonosobo sejatinya titisan Kiai Kolodete, leluhur masyarakat Wonosobo (danyang).


Dalam menjalankan tugasnya kala itu, Kiai Kolodete merasa kerepotan karena memikul beban rambut gimbal yang memenuhi atas kepalanya.

Pelarungan rambut gimbal di Telaga Menjer, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (29/7/2017). TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI
Pelarungan rambut gimbal di Telaga Menjer, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (29/7/2017). TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI (Tribun Jateng/Khoirul Muzakki)


Seorang anak menjalani ritual cukur rambut gimbal di Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (29/7/2017). TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI
Seorang anak menjalani ritual cukur rambut gimbal di Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (29/7/2017). TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI (Tribun Jateng/Khoirul Muzakki)

Karena itu, cerita Sarno, Kiai Kolodete kemudian memutuskan untuk menitipkan rambut gimbalnya itu ke anak turunnya hingga sekarang.

Sarno membantah kemunculan rambut gimbal pada sebagian bocah di Wonosobo itu sebagai kutukan.

Ia menyebutnya justru sebagai karunia karena anak itu memperoleh titipan.

"Kiai Kolodete menitipkan rambut gimbal pada anak-anak yang dia sayangi. Jadi sejatinya anak-anak gimbal itu kesayangan," kata Sarno, Sabtu (29/7/2017).


Menurut Sarno, permintaan bocah gembel itu harus dipenuhi orang tua sebagai prasyarat sebelum menjalani ritual pencukuran rambut gimbal.

Sejatinya, kata dia, permintaan itu bukanlah keinginan sang anak, melainkan permintaan Kiai Kolodete yang menggunakan anak itu sebagai perantara.

Karena rambut gimbal itu adalah titipan, kata Sarno, suatu ketika harus dikembalikan ke pemiliknya melalui prosesi ritual pencukuran disertai prasyarat tertentu.

"Karena sudah dititipi ya harus dikembalikan. Pengembaliannya harus melalui ritual," kata dia.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved