Menkominfo Ancam Tutup Platform Media Sosial Jika Tak Ikut Bantu Tangani Radikalisme

Adanya konten yang memicu radikalisme tersebar melalui di media sosial dan platform video sharing, membuat Menteri Komunikasi dan Informasi gerah.

Menkominfo Ancam Tutup Platform Media Sosial Jika Tak Ikut Bantu Tangani Radikalisme
TRIBUNJABAR.CO.ID/THEOFILUS RICHARD
Jumpa Pers Deklarasi Anti Radikalisme Perguruan Tinggi di Universitas Padjadjaran, Jumat (14/7/2017). 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG – Adanya konten yang memicu radikalisme tersebar melalui di media sosial dan platform video sharing, membuat Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara gerah.

Dalam jumpa pers usai Deklarasi Anti Radikalisme Perguruan Tinggi di Universitas Padjadjaran, Bandung (13/7/2017), Rudiantara mengatakan akan menutup platform media sosial dan video sharing jika tak ikut bantu tangani penyebaran konten radikalisme.

“Kalau tidak ada perbaikan kami akan serius. Kami akan sangat pertimbangkan untuk menutup (platform media sosial dan video sharing),” ujarnya.

Menurutnya, dalam penangkalan radikalisme melalui internet, juga harus dilakukan oleh platfom media sosial dan video sharing.


Berdasarkan statistik, kata Rudiantara, jumlah konten negatif yang memicu terorisme dan radikalisme sudah sangat banyak.

“Berdasarkan statistik kami dari tahun 2016 sampai saat ini, permintaan untuk men-down akun-akun di media sosial dan file video sharing, itu sekira 50 persen yang dilakukan oleh penyedia platform internasional,” kata Rudiantara.

Proses penutupan platfom media sosial dan video sharing tersebut tentu tidak dapat dilakukan secara langsung.

Menurutnya proses tersebut perlu dijalankan secara perlahan. “Saya sampaikan, anda (platform media sosial dan video sharing) di Indonesia berbisnis, Anda bisnis apa? Iklan. Jadi kita bisa bertahap, tidak langsung ditutup tapi mereka (platform media sosial dan video sharing) tidak bisa memasang iklan,” ujarnya.

Rudiantara mengaku terpaksa akan melakukan hal tersebut karena tugasnya sebagai pemerintah untuk menjaga kondusifitas di Indonesia.

Menurutnya kondusifitas tersebut lah yang nantinya akan membuat bisnis apapun termasuk media sosial dan video sharing berkembang dan aman di Indonesia.

“Siapapun bisnis di indonesia menginginkan ada stabilitas, baik kemanan atau politik. Anda (platform media sosial dan video sharing) mau kondusif di indonesia atau mengacaukan Indonesia? Kalau Anda mau berbisnis lakukan ini,” kata Rudiantara.

Sebelumnya, dikabarkan pada kasus ledakan bom panci di Kubangan Beureum, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buah Batu, Bandung, pelaku yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang cuanki, belajar membuat bom dengan memanfaatkan internet.

Penulis: Theofilus Richard
Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved