Bom Panci

Sisi Lain Pemilik Bom Panci (Bagian 3): Mengaku Gerah dengan Riba, Katanya Itu Dosa Besar

Ilmu agamaku tak cukup banyak untuk menjawab semua. Tapi kemudian aku berkata. . .

Sisi Lain Pemilik Bom Panci (Bagian 3): Mengaku Gerah dengan Riba, Katanya Itu Dosa Besar
Istimewa
Agus Wiguna, pelaku bom panci 

“Lalu keluarga, ibu bapak?”

Si pemuda tersenyum. Ia merundukkan kepala dan berkata, “Saya ‘pecah’ dengan keluarga. Kami berseberangan paham,”

“Bagian mana yang berseberangan?”

“Saya tak setuju kalau ibu sering meminjam uang dari rentenir. Itu riba, dosa besar. Agama melarang keras, bahkan Allah memeranginya,”

“Apa yang kamu lakukan untuk menyelamatkan orang tuamu dari jeratan riba?”

Ia kembali tertunduk dan tak berhasil menemukan jawaban dengan segera. Lama sekali ia bungkam.

“Setidaknya saya tidak melakukan riba,” lanjutnya kemudian. “sudah pula saya beritahu perkara itu, tapi orang tua membantah,”

“Dengan alasan ekonomi, bukan?”

Ia mengangguk.

Azan magrib berkumandang. Pak RT dan Farkhan memandangku. Sudah saatnya salat. Pasti waktu akan berjalan sangat cepat menjelang isya. Aku bergegas pamit untuk ke masjid dan menitipkan si pemuda pada Farkhan dan Pak RT.

Halaman
1234
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved