Bom Panci

Sisi Lain Pemilik Bom Panci (Bagian 2): Dulu Geng Motor, Taubat Setelah Gabung Dua Ormas Islam

Si pemuda berhenti melemparkan hitam matanya padaku dan kembali merunduk.

Sisi Lain Pemilik Bom Panci (Bagian 2): Dulu Geng Motor, Taubat Setelah Gabung Dua Ormas Islam
Istimewa
Agus Wiguna, pelaku bom panci 

“Saya kuliah jurusan manajemen bisnis. Semester tiga,”

“Di mana kamu bergabung dengan mereka?” tanyaku selanjutnya.

“Di mana-mana, tak tentu.”

Ia mengangguk.

“Saya tak tahu nama tempatnya.”

Aku mengangguk lalu kembali memberinya pertanyaan, “Pelajaran apa yang kamu dapat dari mereka?”

“Sama, seperti pengajian pada umumnya,”

“Seperti?”

“Salat, ibadah, sami’na waatha’na…”

“Sami’na waatha’na?”

“Iya, kita mesti patuh dan taat,”

“Pada siapa?”

Ia terdiam. Kepalanya terangkat dan matanya seolah mengawang ke hadapan, sedangkan punggungnya kini tegak dan dadanya tampak membusung terisi udara yang dihirup sedemikian banyak yang kemudian dihembuskannya sekaligus.

“Ada sebuah pertanyaan, saya harap Pak Ustadz bisa menjawabnya,” ujarnya menohokku tiba-tiba.

Aku lupa melepas sarung dan peci di kepala. Mungkin ini yang menyebabkannya memanggilku “Ustadz”. Tapi kucoba tak gentar.

“Konon, dalam sebuah dalil hadits Nabi, kelak Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya masuk neraka sedangkan yang satu selamat. Islam yang mana yang selamat itu?”

Aku tak berhasil menghafal hadits itu secara lengkap, baik bahasa Arabnya atau terjemahannya.

Dengan akal yang dangkal ini aku menjawab, “Islam yang selamat cuma satu. Mereka bukan golongan manapun dan dengan nama apapun.

Mereka adalah orang Islam yang senantiasa berbaik sangka pada seluruh makhluk, terlebih manusia.

Memiliki prinsip, ‘sebaik-baik diri sendiri lebih baik orang lain, dan seburuk-buruk orang lain lebih buruk diri sendiri’, senantiasa mengajarkan perdamaian, keselamatan dan keamanan,”

Si pemuda menatapku sekali dan kembali berhenti sejenak. Punggungnya kembali tegak dan berkata, “Kembali pada konsep sami’na waatha’na, bagaimana pandangan Ustadz?”

“Menurutmu, atau paling tidak menurut apa yang kaudapatkan ketika ikut kajian dulu?” kukembalikan pertanyaannya.

“Anda yang ustadz, kenapa harus tanya pada saya?” kulit di antara alisnya melipat dan tampak jelas urat di keningnya menegang. Tensinya naik, ia tampak bersemangat.

Gerobak bakso goreng yang digunakan oleh Agus Wiguna, perakit bom panci yang meledak di Buahbatu.
Gerobak bakso goreng yang digunakan oleh Agus Wiguna, perakit bom panci yang meledak di Buahbatu. (yongky yulius/tribun jabar)

“Bagaimana kamu menjalankan sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak pahami?”

“Baik,” balasnya. “Kita sebagai muslim didorong untuk melaksanakan syariat Islam secara kaffah, tak setengah-setengah. Baik dalam peribadatan maupun kehidupan kita sebagai rakyat.

Sekarang, hukum mana yang harus kita ikuti? Pemimpin mana yang harus kita taati? Syariat apa yang mesti kita jalankan? Apakah semua yang kita jalankan sesuai dengan al-qur’an dan sunnah atau malah bertentangan? Apakah bisa dikatakan kaffah Islam kita jika bertentangan dengan al-quran dan sunnah?”

Bersambung ke bagian selanjutnya...

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved