Jumat, 22 Mei 2026

Kuliner Bandung

Awug Cibeunying, Manis dan Legit, Kenyal Tanpa Pengawet

Penganan ini terbuat dari tepung beras, gula merah, parutan kelapa dan aroma daun pandan.

Tayang:
Penulis: Fasko dehotman | Editor: Ichsan
Tribunjabar/Fasko Dehotman
Awug Cibeunying 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fasko Dehotman

TRIBUN JABAR.CO.ID, BANDUNG - Awug merupakan makanan khas warga Sunda yang telah populer.

Camilan ini memiliki bentuk menyerupai kerucut yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian.

Bagian yang telah dipotong kemudian dikemas menggunakan kotak dus dan keranjang bambu

Penganan ini terbuat dari tepung beras, gula merah, parutan kelapa dan aroma daun pandan.

Rasanya yang legit dan manis di lidah, bikin Anda tidak berhenti mengunyahnya.

Biasanya awug dikonsumsi sambil ditemani kopi dan teh hangat.

Pada mulanya awug hanya disajikan saat acara hajatan.

Namun kini awug bisa kita jumpai di berbagai kedai yang menjualnya.

Kedai Awug Cibeunying di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung.
Kedai Awug Cibeunying di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung. (Tribun Jabar/Fasko Dehotman)

Baca: Zaskia Gotik Dilamar di Atas Panggung, Ternyata Seperti ini Sosok Kekasihnya

Satu di antaranya adalah kedai Awug Cibeunying di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung.

Kedai Awug Cibeunying sudah banyak dikenal warga Kota Bandung.

Sesuai namanya kedai ini menyajikan Awug sebagai menu utamanya.

Awug Cibeunying dirintis oleh Ajang Muhidin sejak 1980.

Hingga sekarang kedai ini tetap menjadi primadona kuliner khas Sunda.

Asep Syukur, anak pemilik kedai Awug Cibeunying (Ajang Muhidin), menuturkan, ciri khas dari kedai Awug Cibeunying adalah awugnya sendiri.

Asep mengaku, awug buatan keluarganya berbeda dibanding tempat lain.

"Kalau ditempat lain, awug yang telah dibuat cepat mengeras dalam kurung waktu tiga jam, sedangkan Awug Cibeunying tetap legit meskipun berjam-jam, ujar Asep, kepada Tribun Jabar, Selasa (4/7/2017) siang.

Asep beralasan, awug buatan keluarganya masih menggunakan cara tradisional dan mendetail.

"Dari segi rasa, awug kami lebih kenyal dan menyehatkan tanpa bahan pengawet," jelas Asep.

Untuk penyajian Awug, Asep mengaku tidak terlalu sulit asalkan bahan dan peralatannya tersedia.

Awug
Awug (Tribunjabar/Fasko Dehotman)

Baca: Tak Ada Kabar Pernikahan, Ternyata Ini Sosok Istri dan Anak Daniel Mananta

Berikut penjelasan Asep kepada Tribun Jabar, tentang penyajian Awug.

Pertama- tama, beras pandan wangi direndam terlebih dahulu selama empat jam, kemudian digiling menjadi tepung.

Kedua, tepung yang telah jadi, di kukus menggunakan Seeng (alat kukus tradisional Sunda) selama 10 menit.

Ketiga, Setelah matang, tepung tersebut langsung di ayak dan di dinginkan hingga esok hari.

Keempat, tepung yang telah di dinginkan kemudian di campur menggunakan kelapa.

Lalu di aduk menggunakan air, gula aren, garam dan daun pandan.

Kelima, bahan-bahan yang telah di campur di cetak menggunakan Aseupan (keranjang kukusan) secara berlapis.

Keenam, setelah di cetak barulah di kukus kembali dan siap saji.

Untuk harga awug, terbagi dalam tiga kategori yang disesuaikan selera pembeli.

Yakni satu aseupan Awug Rp 70.000, satu nampan kecil Rp 175.000 dan nampan besar Rp 275.000.

Jam operasional Awug Cibeunying setiap hari mulai pukul 09.00 - 21.00.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved