Mozaik Ramadan

Menakjubkan, Mak Otoh Tak Bisa Melihat Tapi Fasih Mengajarkan Alquran

Dengan telaten, Mak Otoh mengajari setiap anak untuk mengaji dengan lancar. Jika ada kesalahan sedikit saja, ia bisa mendengarnya walau tak membaca

Menakjubkan, Mak Otoh Tak Bisa Melihat Tapi Fasih Mengajarkan Alquran
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Mak Otoh tengah mengajar mengaji kepada sejumlah anak di rumahnya Kampung Damping Sari, RT 2/3, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Kamis (15/6). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.CO.ID, GARUT - Memiliki keterbatasan fisik sejak lahir tak membuat Mak Otoh (60), berkecil hati. Meski tak bisa melihat, ia malah mengajar anak-anak di kampungnya membaca Alquran.

Warga kampung Damping Sari, RT 2/3, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut itu sudah sejak tahun 1980-an menjadi guru ngaji. Dengan segala keterbatasan, Mak Otoh bisa mengajarkan ilmu tajwid dan tadarus Alquran.

"Ada 70 santri yang ngaji di sini. Usainya mulai dari 7 sampai 15 tahun," ucap Mak Otoh yang hafal ayat Alquran tanpa bantuan Alquran braile, Kamis (15/6).

Ia mengajar mengaji anak-anak di rumah miliknya. Rumah semi permanen bercat putih itu menjadi saksi bisu Mak Otoh dalam mengajarkan ilmu agama. Di usia senjanya, Mak Otoh mengaku mengajar mengaji menjadi hiburan bagi dirinya.

"Apalagi suami sudah meninggal. Dua anak saya juga tinggal di Aceh dan Surabaya. Jadi kalau ada anak-anak ramai rumahnya," katanya.

Dengan telaten, Mak Otoh mengajari setiap anak untuk mengaji dengan lancar. Jika ada kesalahan sedikit saja, ia bisa mendengarnya walau tak membaca Alquran secara langsung.

"Kalau bulan biasa suka empat kali ngajar ngajinya. Tapi di Ramadan cuma tiga kali. Waktu ba'da Magrib selama Ramadan enggak ada aktivitas ngaji dulu," ujarnya.

Pengetahuan mengaji yang dimilikinya saat ini, lanjut dia, diperoleh secara otodidak. Tidak ada bantuan Alquran braile saat ia belajar mengaji.

"Mungkin duku sering dengar orang mengaji. Jadi terbiasa dan suka dilantunkan," ucapnya.

Dari mengajarkan mengaji, Mak Otoh mampu menghidupi dirinya dari bantuan sukarela tiap warga. Ia tak pernah meminta imbalan. Biasanya warga sekitar banyak yang mengirim beras, jagung, ikan, dan lainnya untuk kebutuhan Mak Otoh.

"Anak-anak juga suka membantu mencuci pakaian. Alhamdulillah banyak yang bantu," katanya.

Pendidikan Alquran yang dilakukan Mak Otoh, merupakan bentuk pengabdiannya. Ia tak pamrih meski banyak warga yang menitipkan anaknya untuk mengaji. (wij)

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved