Usia Hampir Seabad, Abah Landoeng Tetap Aktif jadi Relawan
Usia bukan halangan untuk terus mengabdi, itulah yang terus dicontohkan oleh Abah Landoeng, sosok di balik lagu Guru Oemar Bakrie milik Iwan Fals.
Penulis: Seli Andina Miranti | Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Seli Andina
TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Usia bukan halangan untuk terus mengabdi, itulah yang terus dicontohkan oleh Abah Landoeng, sosok di balik lagu Guru Oemar Bakrie milik Iwan Fals.
Ditemui di ruangannya di Posko Pejoeang Pancasila, jalan Riau, Bandung, Kamis (15/6/2017), Abah Landoeng tak keberatan menceritakan kegiatannya saat ini.
Meski usia tak muda lagi, sudah hampir satu abad kakek yang lahir pada 11 Juli 1926 ini rupanya masih aktif berkecimpung di bidang sosial.
Setiap ada bencana yang menimpa negeri ini, Abah Landoeng tidak pernah absen untuk berpartisipasi sebagai relawan.
Mulai dari meletusnya gunung Kelud, gunung Merapi, Merbabu, sampai Galunggung. Begitu pula dengan gempa dan tsunami Aceh, gempa Nias, sampai tsunami Pangandaran.
"Saya pernah ke Sumatera pakai sepeda saya, untuk jadi relawan di posko-posko pengungsian di Aceh," cerita Abah Landoeng.
Abah Landoeng menguasai beberapa teknik kesehatan yang biasa dipergunakan untuk membantu para korban bencana.
Beberapa diantaranya adalah teknik pijat dan trauma healing.
Untuk pijat, Abah Landoeng mengaku belajar pada ahlinya. Sementara untuk trauma healing, dirinya mengaku tidak pernah belajar pada siapapun, alias otodidak.
"Untuk menyembuhkan hati, kita berkomunikasi lewat hati, dengan niat dari hati. Itulah ilmu trauma healing," ujarnya.
Ketika masih aktif menjadi guru, Abah Landoeng mengaku sering kena tegur dari Kepala Sekolah tempatnya mengajar.
Alasannya adalah karena Abah sering absen mengajar untuk menjadi relawan bencana.
"Syukur tidak dipecat ya," katanya sambil tertawa.
Saat ini Abah Landoeng masih aktif menjadi anggota Dewan Pemerhati Kelestarian Lingkungan Tatar Sunda (DPLKS).