Mudik Lebaran 2017

Omset Penjualan Sarung Tenun Majalaya Meningkat 3 Kali Lipat

Menjelang Hari Raya Idulfitri 1438 Hijriah, produsen sarung tenun asli Majalaya, Kabupaten marema.

Omset Penjualan Sarung Tenun Majalaya Meningkat 3 Kali Lipat
TRIBUN JABAR/RAGIL WISNU SAPUTRA
Sejumlah karyawan salah satu produsen sarung tenun Majalaya tengah melakukan proses finishing sebelum akhirnya dijual ke pembeli atau distributor, Jumat (16/6/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ragil Wisnu Saputra

TRIBUNJABAR.CO.ID, MAJALAYA - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1438 Hijriah, produsen sarung tenun asli Majalaya, Kabupaten marema.

Sejumlah produsen mengaku jika omset penjualan sarung tenun hingga lebih dari 300 persen dari hari biasanya.

H Aep Hendar (53), salah satu produsen sarung tenun Majalaya mengatakan, kenaikan omset penjualan sarung tenun memang sudah menjadi siklus tahunan bagi para produsen sarung tenun di Majalaya.

Momen lebaran, kata dia, adalah momen yang paling ditunggu para produsen.

"Kenaikan omsetnya sampai 300 persenan lebih dari bulan biasanya. Ini momen yang paling ditunggu para produsen sarung di Majalaya. Termasuk saya," ujar Aep pemilik perusahaan sarunng tenun Setia Tunggal Textile saat ditemui dirumahnya di Jalan Sukamanah Nomor 404, Desa Sukamanah, Jumat (16/6).

Bahkan pada tahun ini, lanjut dia, permintaan pembeli atau pemborong justru meningkat dibandingkan pada tahun lalu.

Pasalnya, ramainya penjualan sarung tenun sudah terjadi sejak sebelum datangnya bulan puasa.

"Kalau tahun kemarin kan ramainya pas bulan puasa. Itu juga baru dua minggu sebelum lebaran. Nah kalau tahun ini sebelum puasa saja sudah banyak yang beli dan pesan," kata Aep.

Rata-rata kata Aep, produsen sarung tenun di Majalaya menjual sarung polosan. Harga per kodinya pun sangt bervariasi.

Ia sendiri hanya membanderol harga sarung polosan senilai Rp 240 ribu per kodi.

Namun ia juga menjual sarung yang telah dipacking (dikemas) dengan brand sendiri. Harganya sekitar Rp. 400 ribu saat momen lebaran.

"Kebanyakan disini mah jualnya sarung polosan belum dikasih label atau brand juga belum dipackaging. Biasanya yang beli itu pemborong dengan jumlah yang besar. Mereka dijual kembali ke pasar," katanya. (*)

Penulis: Ragil Wisnu Saputra
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved