Breaking News:

SOROT

Djanur

Terpuruknya prestasi Persib di awal Liga 1 ini pun berimbas pada posisi sang pelatih Djadjang Nurdjaman alias Djanur.

Editor: Kisdiantoro
DOK
Ichsan, Redaktur Tribun Jabar 

Namun apa lacur yang terjadi justru di awal liga ini, Persib terpuruk. Essien dan Cole tak mampu menunjukkan performa yang meyakinkan. Penampilan Essien dan Cole, jauh menurun dibanding ketika masa jayanya berlaga di liga Eropa. Faktor usia menjadi satu alasan, menurunnya kedua pemain itu. Khusus untuk Cole, kondisi fisiknya pun tak menunjang untuk menjadi striker haus gol.

Jadi, jika mencermati kondisi seperti ini, sebenarnya kekeliruan Persib berawal dari proses perekrutan pemain. Menjelang liga bergulir yang dibutuhkan Persib itu pemain di posisi striker dan play maker (Pengatur Serangan).

Posisi striker jelas gagal karena Cole tak mampu menunjukan kelasnya sebagai striker haus gol. Essien sebenarnya tampil cukup lumayan. Namun karakter Essien sebagai gelandang bertahan, tak bisa diharapkan berperan maksimal sebagai play maker.

Dan sesungguhnya hampir semua gelandang yang dimiliki Persib bertipikal gelandang bertahan. Jadi di posisi ini bertumpuk. Ada Hariono, Dedi Kusnandar, Kim Jeffrey Kurniawan, semua memiliki karakter bertahan.

Gelandang yang memiliki karakter menyerang hanya Raphael Maitimo dan Gian Zola. Namun Maitimo belum bisa menjadi jenderal lapangan tengah. Begitupun Zola karena masih muda dan soal jam terbang, ia masih dalam proses belajar.

Ketidakhadiran play maker sekelas Makan Konate, membuat permainan Persib, terutama dari sisi penyerangan menjadi tidak bervariasi dan monoton. Tak heran sejumlah bobotoh kerap mengkritik Djanur dengan sebutan serangan "Mapay Gawir", menyerang hanya dari sisi kiri dan kanan lapangan.

Pola permainan Persib seperti itu, sangat mudah dibaca dan diantisipasi lawan. Tak heran Pelatih Bali United, Widodo C Putro, sebelum laga Bali United kontra Persib, sesumbar mengatakan, dia sudah tahu cara mengalahkan Persib.

Djanur sendiri mengaku ia kesulitan mengatur komposisi pemain karena tidak memiliki striker haus gol. Beberapa kali Sohei Matsunaga yang seorang gelandang, dipaksa jadi striker. Pola ini terbukti tak membuahkan hasil.

Jadi, mencermati kondisi seperti itu pertanyaannya adalah apakah perekrutan pemain itu sudah sesuai kebutuhan tim? Jika melihat hasilnya, tentu jawabannya tidak. Sebab yang dibutuhkan striker haus gol, ternyata tak terbukti. Dan yang dibutuhkan play maker, yang datang justru gelandang bertahan.

Pertanyaan lain, apakah perekrutan pemain itu memang atas kehendak sang pelatih? Ini yang belum terjawab. Hingga kini semuanya masih misteri.

Terlepas dari semua itu, jika Djanur tetap dipertahankan. Mau tidak mau pria asal Majalengka itu harus terbuka menerima kritik dan segera mengubah strategi permainannya. Sebab pola permainannya sudah usang dan mudah terbaca lawan. Hidup Persib.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved