Sejumlah Pakar dan Budayawan Bicara Soal Kalender Sunda di Bosscha

Dewan Pembina Bestdaya Miranda H Wihardja mengatakan kalender Sunda masih digunakan oleh . . .

Sejumlah Pakar dan Budayawan Bicara Soal Kalender Sunda di Bosscha
TRIBUN JABAR/MUMU MUJAHIDIN
Seorang petugas Observatorium Boscha tampak tengah menjelaskan fungsi dari teleskop raksasa di Observatorium Niscaya dalam acara Ritual Pengetahuan Harmoni Benda Langit dan Pemikiran Kita di Jalan Peneropong Bintang Lembang Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (3/6/2017) petang. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mumu Mujahidin

TRIBUNJABAR.CO.ID, LEMBANG - Para pakar, praktisi, budayawan serta para pecinta kebudayaan sunda di Bengkel Studi Budaya (Bestdaya) berdiskusi tentang Kalender Sunda sebagai khasanah budaya yang perlu dilestarikan dan dilindungi oleh pemerintah sebagai warisan budaya tak benda melalui payung hukum yang jelas.

Dewan Pembina Bestdaya Miranda H Wihardja mengatakan kalender Sunda masih digunakan oleh sebagain masyarakat Sunda terlebih di beberapa kampung adat seperti masyarakat Baduy di Banten, masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya, dan masyarakat kampung Ciptagelar di Sukabumi.         

"Pada zaman dulu orangtua (orang Sunda) cukup menggunakan kalender dengan hafalan, menghitung dengan tangan yang diturunkan secara turun temurun secara lisan tidak ada bentuk fisik," katanya di sela-sela diskusi, di Observatorium Bosscha Jalan Peneropong Bintang Lembang Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (3/6) petang.

Berkat hasil kajian penelitian Ali Sastra Amijaya dengan menarik kembali perhitungan kalender Sunda ke tahun satu (pertama) sejaman dengan Salaka Nagara. Kini para pakar, akademisi dan budayawan mendokumentasikan tradisi lisan tersebut ke dalam tradisi tulisan dengan membuat kalender Sunda dalam bentuk fisik.

"Sekarang sudah dipakai bersama (kalender), tidak ada istilah kalender lama atau baru. Hanya saja pada jaman kekuasaan Sultan Agung Tirtayasa pada saat itu mereka ini menyesuaikan kembali (kalender Sunda) dengan penanggalan hijriah. Sehingga ia menggantikan atau membuat penanggalan dengan dibuat tanggal dan bulan yang baru, tapi tahun yang lama," tuturnya. (*)

Penulis: Mumu Mujahidin
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved