Cerpen Zainul Muttaqin

Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam

KENING Darso berkerut melihat istrinya menggunting sehelai kain kafan dan diukurnya sesuai ukuran tubuhnya sendiri.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam 

"Apa maksud ucapanmu itu Simar?" Wajah serius yang ditampilkan Simar membuat salah seorang tetangga yang ikut menyambut kedatangannya jadi bertanya sekaligus merasa terkejut.

"Semua orang kelak pada saat kematiannya pasti akan pakai kain kafan. Ini dibasuhnya biar berkah." Darso mendahului jawaban yang akan dikatakan istrinya. Lelaki itu cuma tak ingin apa yang kerap dilontarkan Simar perihal kematiannya selama ini diketahui banyak orang. Cukup dia yang menanggung waswas jika apa yang diucapkan Simar selama ini benar-benar jadi nyata.

Satu hal lagi yang diinginkan Darso. Simar tak benar-benar jadi meninggal secepat ini. Meski lubang kubur telah digali dan kain kafan sudah dibasuh tiga kali dengan air zamzam, Darso mengharap tak akan terjadi apa-apa dengan istrinya, terlebih Simar sedang mengandung anak pertamanya. Dengan doa-doa yang kerap dipanjatkan Darso agar dipanjangkan umur istrinya, ia yakin Simar akan terus menemaninya hingga usia senja. Darso, yang berencana memiliki tiga anak, tentu tak ingin Simar dijemput Izrail secepat ini. Tiap malam, doa yang dipinta Darso kepada Tuhan cuma satu, yaitu dipanjangkan umur sang istri dan tak jadi nyata ucapan istrinya yang selalu bilang akan meninggal sesegera itu.

Tapi, setelah Simar melahirkan anak laki-laki, kepada Darso ia bilang agar kain kafan yang disimpannya di dalam lemari diambil dan dibungkuskan ke tubuhnya. Laki-laki itu tercengang bukan kepalang. Ia masih menggendong bayi laki-laki yang wajahnya sama persis dengan Darso, cuma hidungnya yang mancung mirip dengan Simar. Darso memandang wajah istrinya tanpa berkedip. Ia tahu ada yang ganjil dari wajah sang istri. Wajah itu tak lagi semringah. Pada detik kesekian Simar meninggalkan anak dan suaminya. Tangan Darso mengusap wajah istrinya, disusul derai air mata yang jatuh ke lantai.

Kain kafan yang sudah dibasuh air zamzam itu diambil oleh Darso. Ada tulisan kullu nafsin dzaiqatul maut yang ditulis pada selembar kertas di dalam sehelai kain putih itu. Darso tahu, jauh-jauh hari Simar memang sudah mempersiapkan kematiannya itu. Walaupun doa yang dipanjatkan Darso tak terkabul, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa cuma Allah yang mengetahui rahasia di balik peristiwa ini.

Jenazah akan dikebumikan nanti sore selepas salat Asar. Liang kubur yang sudah digali beberapa bulan lalu digali lagi karena tertimbun tanah. Warga yang datang melayat sungguh tak pernah terduga akan sebanyak itu. Darso sendiri merasa paling cuma sebagian warga yang akan ikut mengantar istrinya ke pembaringan terakhir. Darso bukan siapa-siapa. Bukan ustaz, apalagi kiai. Itulah mengapa ia berpikiran semacam itu.

"Cuma manusia yang dekat dengan Tuhannya yang sanggup mempersiapkan kematiannya sendiri dan mengetahui tanda kematiannya," kata salah satu pelayat yang ikut menggotong keranda ke pemakaman. Saat jazad Simar dibaringkan di liang kubur, kain kafan itu menebarkan wewangian. Wanginya sangat lembut. Tak pernah ada wewangian sewangi dan selembut itu. Darso tersenyum di dekat pusara. Ia cuma menduga-duga bahwa itu pertanda amal baik sang istri. Bunga-bunga ditabur di atas pusara. Tinggal Darso seorang diri di dekat pusara sedang menyiramkan air zamzam pada kubur sang istri seraya mengecup ujung batu nisannya.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved