Selasa, 16 Juni 2026

Jejak Penyebaran Islam

Ponpes Sukamiskin 136 Tahun Sebarkan Islam

SEPINTAS bangunan itu terlihat dari depan seperti bukan sebuah pesantren . . .

Tayang:
TRIBUN JABAR/M NANDRI PRLATAMA
Pondok Pesantren Sukamiskin. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.CO.ID - SEPINTAS terlihat dari depan seperti bukan sebuah pesantren dengan tetap mempertahankan gaya arsitektur bangunan lama. Tapi, siapa sangka ternyata bangunan tersebut merupakan bangunan pondok pesantren tertua di Kota Bandung.

BERLOKASI di Jalan Pesantren, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Pondok Pesantren Sukamiskin ini tumbuh dan tetap eksis di tengah gempuran pondok pesantren modern lainnya di Bandung. Pondok pesantren ini didirikan pada 1881 oleh Kiai Haji Raden Muhammad bin Alqo putera Daeng Daud yang berasal dari Kampung Pulo, Jakarta.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sukamiskin, yang juga merupakan keturunan pendiri ponpes, yakni KH Abdul Azis, dengan ramah menyambut Tribun dan memberikan penjelasan tentang sejarah Ponpes Sukamiskin.

Menurut KH Abdul Azis, dalam kurun waktu sekitar 36 tahun Kiai Muhammad bin Alqo memimpin Ponpes Sukamiskin, kemudian menyerahkan kepemimpinannya kepada menantunya yang bernama Kiai Kholil sebelum kedatangan putra laki-laki Kiai Muhammad bin Alqo, yakni Kiai Dimyati, atau yang terkenal dengan sebutan Mama Gedong.

Sepanjang perjalanan 36 tahun, kata KH Abdul Azis, Ponpes Sukamiskin terus mengembangkan ilmu-ilmu tentang tariqah. Namun, setelah kedatangannya dari penimbaan ilmu di Mekah, Kiai Dimyati mengubah atau meningkatkan Ponpes Sukamiskin ini menjadi lebih terarah, dengan adanya penerapan klasifikasi, kurikulum, dan usia mondok (pesantren) selama delapan tahun mulai nol A, nol B, hingga enam.

"Dari sana kemudian ada imtihan (percobaan) kepada para santri hingga pada Minggu (21/5) kami gelar imtihan ke-100 tahun," kata KH Abdul Azis saat ditemui Tribun di Ponpes Sukamiskin, Sabtu (27/5/2017).

KH Abdul Azis juga menerangkan asal-usul nama Sukamiskin. Ternyata, kata Sukamiskin berasal dari bahasa Arab, yakni suq dan misk. Suq artinya pasar dan misk artinya minyak wangi. "Jadi, jika diartikan Sukamiskin itu pasarnya minyak wangi, sedangkan kampungnya itu Sindanglaya, tapi saat ini lebih terkenal dengan sebutan Sukamiskin. Maka, nama ini semoga dapat memberikan harum dan manfaat bagi semuanya," kata pria yang kini berusia 67 tahun itu.

Selama berdirinya Ponpes Sukamiskin, yang jika dihitung telah berusia 136 tahun, KH Abdul Azis pun mengakui bahwa Ponpes Sukamiskin menghadapi berbagai hambatan dan tantangan, seperti pada tahun 1942 terjadi pengeboman oleh Belanda yang membuat ponpes ini luluh lantak dan menyisakan puing-puing, serta yang menyebabkan Kiai Dimyati mesti mengungsi ke daerah Ciparay, Kabupaten Bandung.

"Ya mungkin itu semata-mata bukan karena takut, melainkan terlebih dahulu mencari keselamatan dengan tetap memberikan komando dari jauh. Sebab, jika tetap diam di Bandung, sama saja bunuh diri," ujarnya.

Sepeninggal Kiai Dimyati, kata KH Abdul Azis, kepemimpinan Ponpes Sukamiskin beralih ke Kiai Ahmad Haedar Dimyati, putranya sendiri, yang mencoba membangun kembali puing-puing pondok yang dibom Belanda, hingga saat ini diurus oleh keturunannya.

Adapun peninggalan sejarah keberadaan Ponpes Sukamiskin yang membuktikan eksistensinya itu terlihat dari bangunan ponpes tersebut. Dari bagian dalam pun, terlihat masih menggunakan keramik lama dengan dekorasi bagian dalam, yakni dindingnya tampak kokoh, serta bagian kubah rumah tampak memakai gaya rumah zaman dahulu.

"Luas ponpes ini sekitar satu hektare. Kami juga termasuk Ponpes Salafiyah dan alhamdulillah santri-santriwati berasal dari berbagai daerah, seperti Batam, Lampung, Madura, Palembang, serta luar daerah lainnya," ujarnya seraya menyebut kini ada 350 orang yang mondok terdiri dari putra dan putri.

Dalam memberikan pelajaran kepada santrinya, kata KH Abdul Azis, Ponpes Sukamiskin selalu menekankan toleransi. Sebab, di dalam kitab dan Alquran telah diperintahkan demikian di samping ibadah amaliyah dan fiqh. "Setelah itu soal akhlak dan tawadu hingga saat ini. Kami juga berpesan kepada para santri untuk hormat kepada guru sekalipun itu bukan guru kita. Serta pesan tambahan, ialah harus ekonomi," ujarnya.

KH Abdul Azis pun menjelaskan maksud harus ekonomi tersebut. Maksudnya ialah para santri harus paham dan mampu membuat usaha, agar kelak dapat mandiri dan berjuang dengan uangnya itu untuk kehidupannya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
2 - 2
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved