Breaking News:

Objek Wisata

Batu Ampar, Batu Terhampar Sepanjang 300 Meter Tanpa Putus dengan Aliran Air di Atasnya

Konon batu ampar menjadi tempat pertama kali para ulama (Eyang Haji) menggagas menyebarkan syiar agama Islam di masa lalu.

Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR/MUMU MUJAHIDIN
Pengunjung menikmati keindahan alam di lokasi wisata Batu Ampar di kawasan Bandung Utara di tengah hutan bukit tunggul Kampung Pasir Angling, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. 

LEMBANG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Unik. Hamparan Batu Ampar terbentang hingga 300 meter dengan lebar mencapai 15 hingga 20 meter. Berada di kawasan Bandung Utara di tengah hutan bukit tunggul Kampung Pasir Angling, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Konon batu ampar menjadi tempat pertama kali para ulama (Eyang Haji) menggagas menyebarkan syiar agama Islam di masa lalu.

Air yang sangat jernih dan bersih mengalir di atas permukaan batu ampar mengikuti sela-sela dan patahan batu yang lebih rendah. Batu membentang sepanjang 300 meter tanpa putus mengikuti kontur tanah sehingga membentuk aliran-aliran air terjun kecil yang terlihat sangat unik dan menarik, bersih juga alami.

Gelombang batu terlihat tampak kokoh dan gagah. Sepanjang sisi aliran sungai juga ditumbuhi tanaman-tanaman liar membentuk semak belukar hingga hampir menutupi aliran sungai.

Puluhan tahun sudah warga mengenal tempat bernama Batu Ampar tersebut dari cerita sejarah nenek moyang mereka. Namun wujud batu yang membentang tersebut sendiri, justru baru tampak bentuknya pada Maret 2016 lalu, pasca banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut.

Batu Ampar, merunut ke dalam bahasa sunda yang berarti sebuah batu yang terhampar atau tergelar bak permadani. Batu ampar hanya dikenal warga sebagai nama tempat saja. Tidak ada dalam pikiran warga bahwa tempat tersebut benar-benar nyata dan ada wujudnya.

Batu Ampar dikenal warga sebagai sumber mata air Cibodas di hulu sungai Cibodas, Lembang. Warga membangun bak penampungan air di sekitar aliran sungai, kemudian dipasang paralon untuk mengalirkan air ke permukiman warga di Kampung Pasir Angling dan Kampung Ciawitali di RW 07 dan 16. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga, air tersebut juga digunakan untuk menyirami perkebunan sayuran warga.

Batu Ampar ditemukan warga setelah banjir bandang menerjang sumber mata air tersebut pada Maret 2016 lalu. Hamparan batu yang sangat luas dan panjang tersebut tersibak setelah terkena sapuan air bah yang menerjang dari atas bukit tunggul. Selama ini hamparan batu ampar tertutup tanah dan semak belukar sehingga nyaris menutup aliran sungai.

Warga Pasir Angling dan Ciawatali mulai menyibak tanah dan tanaman liar yang menutup batu tersebut. Warga mulai membenahi batu sehingga tampak bentangan batu hingga 300 meter.

Kini warga kerap dibuat penasaran akan keberadaan batu tersebut, sehingga setiap minggu banyak warga yang berkunjung demi memenuhi rasa penasaran mereka. Tidak hanya warga setempat, para pecinta alam pun kerap mengunjungi tempat tersebut.

Batu ampar berjarak sekitar 1,5 km dari pemukiman warga, atau sekitar 10 km dari alun-alun Lembang arah Maribaya dan objek wisata The Lodge. Batu ampar hanya dapat diakses menggunakan sepeda motor offroad (trail) saja dengan waktu tempuh hanya 30 menit.

Kondisi jalan berkelok dan bergelombang dengan permukaan tanah merah. Selain itu tempat ini juga bisa diakses dengan cara berjalan kaki (hiking) dengan waktu tempuh hanya 45 menit saja dari pemukiman warga.

Ketua RW 07 Cecep Dodi (41) mengatakan dalam mewujudkan program Desa Suntenjaya sebagai desa wisata yang sudah digagas pada 2015 lalu, pihaknya akan mengembangkan objek wisata alam dan edukasi sejarah di kampung tersebut. Dengan menjadikan batu ampar dan curug Cibodas sebagai salah satu destinasi wisatanya.

"Kami hanya akan membenahi saja (batu ampar) agar tampak indah dan nyaman. Kami tidak akan membangun masif, agar batu ampar ini tetap terjaga kealamiannya. Kami akan perketat peraturannya," ujar Cecep di lokasi, Sabtu (13/5) sore.

Selain batu ampar dan curug Cibodas, warga juga membangun bumi perkemahan di sekitar lokasi, yang ditujukan bagi pecinta alam dan instansi pendidikan. "Kami juga punya kampung mural dengan spot-spot unik di pemukiman warga. Kami juga ada program live in (tinggal di rumah warga) di kampung kami. Warga bisa menginap dan belajar dengan mengikuti aktifitas warga berkebun dan beternak memerah sapi selama 3 hari," tuturnya.

Selain menjadi hulu sungai Cibodas, konon Batu Ampar juga dipercaya warga sebagai lokasi pertama kegiatan syiar Islam pertama kalinya yang dilakukan oleh tokoh ulama Eyang Haji pada masa lalu.

"Jadi menurut sesepuh dulu, di sini itu (batu ngampar) dulunya dipercaya sebagai tempat pertama kalinya kegiatan syiar islam dilakukan oleh Eyang Haji," kata Cecep.

Warga juga percaya bahwa jauh sebelum itu, fenomena batu besar yang terhampar itu merupakan sisa dari jejak keberadaan gunung Sunda Purba karena bukit tunggul merupakan ujung perahu tangkuban perahu yang ditendang oleh Sabgkuriang di masa lalu.

Gunung Sunda Purba sendiri berdasarkan catatan seorang ahli Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), T. Bachtiar yang ditulis ke dalam sebuah bukunya berjudul Bandung Purba; Lindungi Pusaka Bumi Bandung, merupakan gunung api raksasa yang tingginya mencapai kurang lebih 4.000 meter dan meletus sekitar 500.000 tahun yang lalu.

"Makanya konon urang sunda asli itu berasal dari Lembang karena mangacu pada keberadaan gunung sunda itu," katanya.

Lebih jauh, ia menjelaskan, Desa Suntenjaya dan Desa Cibodas sendiri dulunya bernama Leuweung datar. Baru sekitar tahun 1960-an, Desa Suntenjaya mengalami pemekaran dengan Desa Cibodas. Keduanya masing-masing mengacu pada hulu aliran air, yakni Geger Sunten dan Sirah (hulu) Cibodas atau Batu Ampar.

Ia mengaku, dengan tersibaknya wujud keberadaan Batu Ampar tentunya menjadi kebanggan tersendiri bagi warga Suntenjaya. Selain memiliki sumber mata air, juga dapat mendorong Desa Suntenjaya dijadikan sebagai desa wisata sebagaimana yang telah dicanangkan dalam program desa. (mud)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved