Kisah Petani Kopi di Bandung Utara
Tetap Bersyukur Meski Hasil Tahun Ini Tak Melimpah
TAK ada yang lebih menakjubkan dari sorot mata para petani kopi saat panen tiba. Kebahagiaannya memancar. Kebahagiaan yang menular.
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
TAK ada yang lebih menakjubkan dari sorot mata para petani kopi saat panen tiba. Kebahagiaannya memancar. Kebahagiaan yang menular.
TAK butuh waktu lama bagi Enung (37) untuk mengisi penuh wadah kosong bekas kaleng cat lima kiloan dengan buah kopi matang di kebunnya di Blok Palasari, kawasan Gunung Batukarut, Kampung Cilaja, Desa Giri Mekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.
Tangannya terampil memilih buah yang paling matang, dan membiarkan yang mentah atau separuh matang untuk dipetik lain hari. Dan, baru beranjak ke pohon lain ketika semua buah matang habis di satu pohon.
"Petik yang merah saja," kata Enung sembari tersenyum seraya memeragakan caranya memetik dengan memotes satu persatu buah tanpa membawa serta tangkainya,
Cara tersebut, menurut Enung, bukan saja membuat kualitas kopinya terjaga karena terseleksi langsung sejak di tahap pemetikan, tapi juga memelihara produktivitas pohon karena pemetikan satu persatu seperti itu akan membuat pohon kopi lekas kembali berbunga."
Tak kurang dari 200-an hektare lahan di hutan Blok Palasari yang ditanami kopi oleh warga setempat. Dari jumlah tersebut, lahan yang dikelola Enung dan suaminya, Odang (45), hanya sekitar 200-an.
"Bukan jumlah yang besar, tapi lumayan untuk nambah-nambah biaya kebutuhan sehari- hari," kata Odang, yang Senin pagi di pertengahan bulan April lalu itu ikut menemani istrinya memetik kopi di kebun.
Musim panen ini, menurut Odang, adalah kali kedua bagi mereka sejak mulai menanam, tiga tahunan lalu. Perlu dua tahunan, tanaman kopi untuk siap dipanen. Setelah panen perdana, tanaman itu akan berbuah setiap tahun, dengan masa panen yang panjang, sekitar empat bulanan. Pada setiap musim, para petani bisa terus memanen setiap 17 hari sekali.
"Sekarang tak begitu bagus. Hasilnya tak sebanyak tahun lalu," kata Enung.
Hujan yang berlangsung hampir sepanjang tahun, ujarnya, membuat hasil panen merosot hampir separuhnya. Jika dulu, sekali datang ke kebun, bisa dapat 1 kuintalan bahkan lebih.
"Sekarang paling 30-an kilo. Setahunan ini memang hampir tak ada kemarau. Ini berpengaruh pada produksi kopi," kata Odang.
Dengan panen yang tak begitu bagus ini, menurut Odang, uang yang dihasilkan otomatis tak sebanding dengan waktu dan tenaga yang mereka keluarkan selama menanti panen. Satu kilo kopi gelondongan hasil memetik di kebun dihargai Rp 7.000-8.000 oleh pengepul, tergantung kualitas dan kesepakatan.
"Bukan jumlah yang banyak jika dihitung dengan hasil panen tahun ini," ujarnya.
Namun, baik Odang maupun istrinya mengaku tetap senang seberapa pun hasilnya. Toh, masih tetap ada harapan pada musim yang akan datang.
"Siapa tahu tahun depan cuacanya bagus, hasil panennya melimpah," kata Odang.
Seperti umumnya para petani kopi di kawasan Bandung Utara, suami-istri Odang dan Enung juga menanam berbagai jenis kopi arabika seperti timtim, linies, usda, atau sigaruntang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka juga menanam sayuran di lahan yang lebih kecil di dekat rumah.
Selain jenis timtim, linies, usda, atau sigaruntang, salah satu kopi arabika terbaik di dunia, gesha sunda juga tumbuh subur di beberapa petak yang terdapat di Blok Palasari ini.
Menurut Yadi Mulyadi (46), agronom Klasik Beans, koperasi yang selama lebih dari sepuluh tahunan ini membina ratusan petani kopi di Jawa Barat, indukan gesha yang mereka restorasi di Blok Palasari ini mereka ambil dari pohon kopi tua yang tumbuh di kelebatan hutan di Bukit Tunggul, beberapa tahun lalu.
"Usia indukan gesha yang kami temukan di Bukit Tunggul itu diperkirakan sudah mencapai 300-an tahun. Saat kami temukan kopi itu masih berbuah," ujar Yadi di kedai kopi Florist yang ia kelola di Pasar Bunga Tegallega, Bandung, awal Mei lalu.
Selain di Blok Palasari, ujarnya, bibit gesha itu juga mereka tanam di hutan Gunung Manglayang. Namun, karena cuaca, kata Yadi, musim tahun ini memang tak begitu baik, menyusut lebih dari 30 persen.
"Tapi, usia produktif tanaman kopi itu puluhan tahun. Jika tak tahun ini, masih ada tahun depan. Hasil panen, berapa pun itu, tetap kami syukuri," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/senyum-enung_20170509_163927.jpg)