Cerpen Dadang Ari Murtono

Meninggalkan Semut di Masjid

Ali si bilal bersumpah bahwa ia melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman masjid wakaf yang ditinggalkan Kiai Haji Alim Alimin.

Meninggalkan Semut di Masjid
Ilustrasi Meninggalkan Semut di Masjid 

"Kau makhluk mulia. Manusia makhluk mulia. Kau tak tahu rasanya menjadi aku. Kau tak tahu."

"Kau juga tak tahu rasanya menjadi manusia. Kemarilah."

Makhluk itulah yang mendekam dalam saku Kiai Haji Alim Alimin di salah satu sore terburuk sepanjang tahun 1987 itu.

**

TIDAK ada yang tahu bagaimana Kiai Haji Alim Alimin menghadapi malaikat mautnya. Orang-orang membuka pintu bilik setelah mereka tak mendapati Kiai Haji Alim Alimin keluar dari sana selama tiga hari. Bau harum menyeruak ketika pintu itu dibuka.

"Masya Allah."

"Innalillahi."

"Benar-benar beliau orang suci."

Bagian di mana tak ada yang tahu bagaimana Kiai Haji Alim Alimin menghadapi malaikat mautnya tak sepenuhnya benar. Si semut, yang semenjak salah satu sore terburuk sepanjang tahun 1987 senantiasa mengikutinya, yang mendengar semua yang dikatakannya, mengetahui benar bagaimana si orang suci mengeluh tiga kali ketika nyawanya sampai di tenggorokan, lalu mengucap syahadat dengan payah, lalu terpejam selamanya, dengan sesungging senyum di bibir. Beberapa menit sebelum saat-saat menyedihkan itu, si kiai berkata kepadanya, "Sering-seringlah ke masjid ini. Tapi maaf, kau tak bisa tinggal di bilik ini. Aku hanya meminjamnya, dan karenanya, meski aku ingin, aku tak bisa mewariskannya kepadamu. Dan kau tak perlu terus-terusan menyembunyikan dirimu dalam wujud seekor semut."

**

"ADA jin di masjid itu, ada jin. Pasti," ucapan itu keluar setelah empat belas orang—dalam jangka waktu sebulan setelah Ali si bilal tersengal-sengal di warung Mak Ijah—mengutarakan bahwa mereka melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman.

"Jangan-jangan itu roh Kiai Haji Alim Alimin."

"Bisa saja."

"Hush... jangan ngomong sembarangan... beliau orang suci."

"Loh, bukannya di makam para wali dan para kiai juga sering penampakan seperti itu? Itu tandanya mereka masih bersama kita, menjaga kita. Itu berkah. Kita semestinya melantarkan doa-doa kita melalui beliau, biar lebih cepat dijawab."

**

BERTAHUN-TAHUN kemudian, ketika luas masjid wakaf Kiai Haji Alim Alimin telah bertambah tiga kali dari ukuran semula dan jemaah yang datang seringkali meluber hingga trotoar jalan raya dan banyak hotel serta restoran berdiri di sekitarnya, seekor semut merayap di pinggir selokan. Ketika ia mendengar orang-orang berdoa dan meminta berkah serta dimudahkan hajatnya kepada hadratus syaikh Kiai Haji Alim Alimin, ia merasa matanya basah.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved