Cerpen Dadang Ari Murtono

Meninggalkan Semut di Masjid

Ali si bilal bersumpah bahwa ia melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman masjid wakaf yang ditinggalkan Kiai Haji Alim Alimin.

Meninggalkan Semut di Masjid
Ilustrasi Meninggalkan Semut di Masjid 

Beberapa orang kemudian memeriksa masjid itu. Mereka kembali ke warung Mak Ijah beberapa saat kemudian dan mengatakan tak melihat makhluk seperti yang diceritakan Ali si bilal. Tapi bagaimanapun, Ali si bilal adalah satu dari sedikit orang yang tak memiliki riwayat suka membual. Maka sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi. Kerumunan orang semakin banyak. Mereka-mereka yang hendak ke masjid berhenti di warung Mak Ijah dan melibatkan diri dalam kerumunan. Sebagian dari mereka yang heran kenapa tidak ada azan siang itu segera mendapatkan jawaban. Namun ingatan mereka tentang kewajiban menunaikan salat Jumat benar-benar muksa. Apa yang terjadi dengan Ali si bilal, ternyata, lebih menarik dari sekadar ancaman dosa dan neraka.

**

KIAI Haji Alim Alimin tak pernah terdaftar sebagai jemaah haji. Namun tak satu pun orang yang meragukan bahwa orang suci itu setiap tahun, pada musim haji, berziarah ke Tanah Suci dan menunaikan semua rukun haji. Banyak orang—bukan satu atau dua—yang bersaksi bahwa mereka bertemu dengan Kiai Haji Alim Alimin di sana. Meski pada waktu yang bersamaan, orang-orang di sekitar tempat tinggal Kiai Haji Alim Alimin juga bersumpah bahwa sang kiai tidak pergi ke mana-mana. Itulah yang kemudian membuat orang-orang yakin bahwa Kiai Haji Alim Alimin memiliki karomah yang membuatnya bisa berada di banyak tempat dalam waktu berbarengan. "Beliau hanya perlu membatin ingin pergi ke mana, dan hanya sekedipan mata, beliau sudah berada di tempat itu."

Begitulah kabar beredar. Dan begitulah ia mendapatkan gelar kiai haji meski ia tak menyukai orang-orang memanggilnya seperti itu.

Itu bukan cerita satu-satunya tentang kehebatan Kiai Haji Alim Alimin. Pada tahun 1984 yang dikenal dengan tahun kesuraman lantaran wabah tikus menghancurkan lahan pertanian dan menjarah isi dapur orang-orang dan pemerintah kabupaten menyerah lantaran segala upaya yang dilakukan untuk membasmi hama itu tak membuahkan hasil, Kiai Haji Alim Alimin konon berbicara dengan seekor tikus. Kemudian, bersama tikus itu, Kiai Haji Alim Alimin pergi ke sebuah gorong-gorong. Di situlah kabarnya raja tikus tinggal. Kiai Haji Alim Alimin, dengan karomahnya, mengadakan perundingan dengan si raja tikus. Dan keesokan harinya, tak ada lagi tikus yang berkeliaran.

"Beliau tidak hanya bisa berbicara dengan binatang, melainkan dengan tumbuhan dan jin, juga angin."

"Seperti Kanjeng Nabi Sulaiman."

"Benar-benar beliau orang suci."

"Orang suci yang sederhana."

**

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved