Jumat, 22 Mei 2026

Gamboeng Vooruit Jelajah ke Gereja Katedral

Sejumlah orang yang tergabung dalam Komunitas Gamboeng Vooruit menyambangi cagar budaya Kota Bandung

Tayang:
Tribunjabar/muhamad nandri

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Sejumlah orang yang tergabung dalam Komunitas Gamboeng Vooruit menyambangi cagar budaya Kota Bandung, yakni Gereja Katedral yang terletak di Jalan Merdeka, Sabtu (8/4/2017).

Puluhan orang itu langsung disambut oleh Ceacilia Amanda Mulyati, selaku ketua komunikasi dan sosial juga sekaligus dosen sejarah arsitektur Universitas Maranatha. Amanda pun kemudian menjelaskan, awal mula keberadaan gereja katedral Bandung dengan mengajak para peserta jelajah cagar budaya ke dalam gereja.

Tampak kemegahan terlihat ketika mulai memasuki ruang dalam gereja. Susunan bangku jemaah umat kristiani tersusun dengan rapi yang mengarah ke bagian timur. Di depan bangku para jemaah, ada pula sebuah ruangan yang dinamakan panti imam atau biasa disebut Altar, dengan di bagian atas terdapat kaca yang memiliki gambar-gambar bercerita tentang tuhannya, yaitu Yesus Kristus.

Katedral Bandung ini ternyata, menurut Amanda, menjadi saksi bisu tentang perjalanan panjang perkembangan umat Katolik di Bandung. Awalnya, Amanda menyebut gereja Katedral Bandung dibangun pertama kali dengan ukuran 8 x 21 meter persegi dengan nama St Franciscus Regis, yang berlokasi yang saat ini menjadi Taman Vanda.

Namun, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya jemaah, maka pada 1917 dipilihlah lahan yang memiliki luas 2.835 meter persegi sebagai lokasi gereja baru (lokasi saat ini), dengan perancangnya ialah Ir CP Wolff Schoemaker, serta diresmikan pasa 19 Februari 1922.

"Seperti yang dilihat di bagian dalam gereja ini, Katedral Bandung memiliki gaya arsitektur neo-Gothic. Lalu, di bagian panti umat yang ada bangku-bangku memiliki filosofi sebagai perahu, yang seolah diajal naik perahu untuk bersa dengan tuhan mengarungi hidup dan tuhan Yesus sebagai nahkodanya," jelas Amanda.

Kemudian, tampak di bagian atas dalam gereja pun tertulis sebuah tulisan "Marilah Kepadaku Kamu yang Lelah dan Menanggung Beban", dengan maksud bahwa para jemaah kristiani datang ke gereja dengan sebuah kepasrahan dan meminta pertolongan. Amanda juga menegaskan, banguna gereja Katedral Bandung ini tidak melakukan renovasi secara besar-besaran, hanya lebih memfokuskan pada pengecatan dan menambahkan profil frame of interest

"Bangunan ini tetap memakai konstruksi Ghotik, seperti menara, rose window (untuk masuknya cahaya), kaca patri (clear storey), dan flying buttress sebagai penyangga bangunan. Intinya bangunan ini memadukan budaya eropa dengan timur," kata Amanda.

Sementara itu, Koordinator Gamboeng Vooruit, Andreas Arifin, mengaku jelajah ke tempat ibadah gereja Katedral Bandung ini sebagai rangkaian jelajah yang sebelumnya sempat datang ke Klenteng di Jalan Setiabudi, meski tidak secara reguler dilakukan setiap bulannya mengunjungi tempat historical

"Nanti kami akan berlanjut ke Pura di Cimahi, dan bisa juga ke Masjid Muskolnas di Cihampelas," kata Andreas usai jelajah.

Komunitas Gamboeng Vooruit, diakui Andreas memang berfokus pada perkebunan, tetapi menurutnya, tanpa adanya perkebunan maka tidak akan ada yang namanya Kota Bandung. Sehingga, kata Andreas, kehadiran tempat ibadah lawas ini sangat memiliki kaitan erat terhadap sejarah kota.

"Intinya, saat ini kami dapat mengetahui dan memahami arti penting keberadaan gereja katedral ini, terutama sebagai bentuk keragaman estetika dan agama. Dan saya berpikir keragaman budaya dan sosial telah tercipta melalui bangunan tempat ibadah," ujarnya. (ff)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved