Selasa, 26 Mei 2026

Jelajah Tjimahi Heritage

Bernostalgia Menyusuri Bekas Bioskop dan Panggung Sandiwara di Cimahi

Daerah lain kini justru tumbuh (bioskop) tapi Cimahi malah hilang, ini apakah ada kesalahan manajemen dalam pengelolaan

Tayang:
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Machmud Mubarok
TRIBUN JABAR
Sejumlah anggota komunitas Tjimahi Heritage berfoto di depan gedung bekas bioskop Rio, di Jalan Ria, Kota Cimahi, Minggu (2/4). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurrahman

CIMAHI, TRIBUNJABAR.CO.ID - Bioskop Rio dan Nusantara di Jalan Rio Kota Cimahi, pernah menjadi saksi era keemasan perfilman Indonesia pada 1970-1980-an. Saat itu, berbagai film bagus turut diputar di dua bioskop ini.

Namun seiring waktu, kedua bioskop itu pun tumbang dan bangunannya kini tak terurus seperti yang terjadi dengan gedung bioskop Rio dan Nusantara.

Menurut pantauan Tribun, Minggu (2/4), gedung bioskop Rio kini telah beralih fungsi menjadi pusat pertokoan telepon genggam. Yang tersisa hanyalah bentuk bangunan dengan tulisan Rio di bagian atas. Sementara bagian bawahnya sudah dirombak habis, catnya pun kini berubah menjadi logo salah satu provaider seluler.

Dikatakan Ketua Tjimahi Heritage Machmud Mubarok, gedung bioskop Rio sudah dibangun sejak zaman Belanda 1937. Saat itu, kata Machmud, hanya orang-orang Belanda dan Pribumi menak saja yang bisa masuk menikmati hiburan film di bioskop Rio.

"Dulunya Rio ini maskot, setiap mau menayangkan film itu selalu diberitakan di koran-koran," ujar Mahmud, saat ditemui disela jelajah Tjimahi Heritage "Jejak Bioskop dan Panggung Sandiwara", di Jalan Rio, Kota Cimahi, Minggu (2/4).

Dikatakan Machmud, bioskop Rio memiliki masa keemasan yang cukup panjang hingga 1990. Sebab, pada masa itu bioskop menjadi satu-satunya hiburan.

Pemutaran film di bioskop jaman dulu dilakukan setiap hari. Biasanya, sebelum film diputarkan, ada pemberitahuan melalui selembaran yang disebarkan menggunakan mobil dan pengeras suara.

"Nah, baru setelah Indonesia merdeka, warga pribumi bisa dengan bebas menonton film di Rio, setiap malam itu ramai karena ada pemutaran film," katanya.

Memasuki era 1990an, kata Mahmud, industri film mulai meredup dan ditinggalkan peminatnya. Selain karena kualitas filmya yang menurun, kondisi krisis moneter pun menjadi penyebab orang tak lagi ingin menyaksikan film di bioskop.

Kalau mengingat sejarah, kata Mahmud, Cimahi sebenarnya memiliki aktivitas seni yang luar biasa. Selain gedung bioskop, ada juga panggung sandiwara di Jalan Babakan. Grup yang  tampil di sini adalah Grup Sinar Laksana yang terkenal sampai ke Jakarta dan bahkan sering pentas di berbagai daerah di Jawa Barat.

"Ini yang kemudian kita tidak pernah tahu, sehingga ini harus menjadi pengetahuan bersama," ucapnya.

Kalau memungkinkan, ujar Machmud, sebetulnya Cimahi harus punya tempat khusus kesenian lagi, entah itu bioskop atau gedung kesenian yang bisa dipakai untuk berkreasi para seniman, dan mungkin bisa membangkitkan panggung sandiwara seperti dulu yang menanggkat nilai-nilai lokal.

"Masyarakat dan seniman membutuhkan, karena kita tidak ingin ke Bandung terus kalau mau nonton film. Apalagi sekarang sudah banyak film nasional yang bagus," katanya.

Ia pun mengharapkan Pemerintah selaku pemilik regulasi dapat mempermudah perizinan, dan menawarkan kepada investor agar dapat membuka kembali bioskop dan panggung kesenian.

"Daerah lain kini justru tumbuh (bioskop) tapi Cimahi malah hilang, ini apakah ada kesalahan manajemen dalam pengelolaan atau mungkin ada penawaran yang kurang dari Pemkot selaku pemilik regulasi," ucapnya. (bb)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved