Cerpen Yudhi Herwibowo

Malam Mengenang Sang Penyair

SAAT mendengar kabar meninggalnya karena sakit, aku diam tak bereaksi. Bahkan menyebut innalillahi pun tidak. Sudah lama, aku tak mau mengingatnya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Malam Mengenang Sang Penyair 

Tapi ternyata, ia datang. Langkah-langkahnya terlihat sangat ragu. Aku tiba-tiba jadi mengingat saat ia menonjok Bara Abu hingga terjengkang. Nasir Umar adalah penyair yang turun dari langit. Itu perumpamaanku untuknya. Kupikir dialah sebenarnya yang paling berbakat di antara kami berempat. Ia penyair sejati. Hanya menunggu ide datang, baru menulis. Sama sekali tak tergoda untuk dimuat di media. Tapi semua orang yang pernah membaca puisi-puisinya pastilah akan mengangkat topi untuknya.

Sampai suatu kali salah satu penyair senior membaca puisinya, ia kemudian menawarinya untuk mengikuti program residensi di Iowa. Nasir Umar begitu gembira dan segera melakukan aplikasi. Namun konfirmasi yang ditunggunya ternyata tak kunjung datang. Beberapa hari kemudian, ia baru tahu, jatah residensi dari Indonesia ternyata telah diwakili oleh Bara Abu.

Semua tahu, kesempatan emas kadang memang hanya datang 1 kali. Maka betapa marahnya Nasir Umar saat itu. Dibuangnya semua barang-barang Bara Abu yang ada di kamar. Kemudian di pertemuan pertama mereka, setelah Bara Abu pulang dari Iowa, ia menonjoknya beberapa kali.

Tapi malam ini, aku tak lagi melihat kemarahan seperti dulu. Nasir Umar hanya diam sejenak sebelum berucap pelan, "Bara Abu... ya, sama seperti yang diucapkan Gundari tadi... ia memang. hmmm, penyair yang sangat berbakat. Aku kagum dengan apa yang sudah dicapainya. Ya, kupikir itu saja. Hmmm, terima kasih."

Aku hanya bisa terdiam. Keadaan ini membuatku merasa janggal. Kedua kawanku itu bukanlah orang yang suka berpura-pura, tapi malam ini mereka melakukan itu.

Aku sedikit beruntung malam ini, tak akan melakukan kebohongan seperti mereka. Tapi ternyata, pembawa acara tetap memanggil namaku.

"Bapak Hanta sebenarnya sedang menderita radang, tapi tak afdal rasanya bila beliau tak mengucapkan sepatah dua patah kata untuk mendiang Bara Abu. Jadi, kami mohon kepada Bapak Hanta untuk maju ke depan...."

Aku hanya bisa menahan napas.

Kakiku seketika lemas.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved