Cerpen Yudhi Herwibowo

Malam Mengenang Sang Penyair

SAAT mendengar kabar meninggalnya karena sakit, aku diam tak bereaksi. Bahkan menyebut innalillahi pun tidak. Sudah lama, aku tak mau mengingatnya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Malam Mengenang Sang Penyair 

Sejak itulah aku memanggilnya Bara Asu, dan tak ingin lagi berhubungan dengannya.

Di hari H, aku ternyata dijemput oleh salah satu utusan dari keluarga Bara Abu. Maka dengan setengah hati, aku pun berangkat ke acara itu, Malam Mengenang Sang Penyair.

Seperti kuduga, acara berlangsung ramai. Hampir seluruh kursi di gedung terisi penuh. Ya, bagaimanapun, Bara Abu memang terkenal. Kematiannya membuat publik sastra di tanah air cukup kehilangan.

Di dalam gedung, aku menyapu pandangan mencari-cari Gundari dan Nasir Umar. Namun aku tak menemukan mereka ada di antara kerumunan orang-orang ini. Di depanku acara sudah berlangsung riuh. Ada acara mengheningkan cipta selama 7 menit, lalu performer beberapa penyair yang membacakan puisi-puisi Bara Abu.

Barulah setelah itu pembawa acara membuka acara testimoni. Sebenarnya inilah acara yang paling kutakutkan. Kupikir aku tak akan sanggup mengatakan apa-apa. Aku tak mau berbohong, tapi aku juga tak bisa berkata jujur karena tak mau melukai keluarga yang ditinggalkan. Maka itulah sebelum aku melangkah memasuki gedung tadi, aku sudah meminta izin pada keluarga Bara Abu agar tak memberi testimoni. Aku berpura-pura tenggorokanku sedang menderita radang parah.

Kini, kudengar pembawa acara mulai memanggil nama Gundari untuk maju ke depan. Aku tentu saja cukup terkejut. Apalagi saat melihat Gundari melangkah ke depan panggung.

Aku benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan diucapkan Gundari. Ia punya luka yang dalam, seperti diriku. Aku masih ingat bagaimana Bara Abu merebut Kristina dari tangannya.

Dulu, perlu kuakui Gundari adalah penyair terkeren di antara kami berempat. Ia sempat menjadi coverboy salah satu majalah remaja. Walau kere, dandanannya sangat dandy. Itulah yang membuat gadis-gadis jatuh cinta padanya. Namun dari semua gadis-gadis itu, hatinya ternyata tertambat pada Kristina. Dari salah satu puisinya kami tahu; setelah menemukan Kristina, ia tak ingin ke mana-mana lagi.

Sialnya, Bara Abu ternyata juga menyukai gadis itu. Karena saat itu mulai popoler, ia kerap meminta Kristina tampil membaca puisi-puisinya di setiap acara-acara sastra. Diam-diam ia juga menghadiahi gadis itu buku-buku yang bagus. Maka seperti ilmu gravitasi, semua benda yang dilemparkan akan kembali tertarik ke pusatnya, maka Kristina pun akhirnya ikut tertarik pada Bara Abu.

Ini membuat Gundari begitu merana. Sebagai wujud kekecewaannya, ia langsung pergi meninggalkan rumah kontrakan kami. Yang lebih menyedihkan ternyata tak sampai di situ saja. Beberapa bulan kemudian, kami tahu, Kristina ternyata hanya dijadikannya pasangan kumpul kebo oleh Bara Abu.

Sungguh, aku bisa membayangkan seperti apa kedukaan Gundari. Maka itulah aku cukup degdegan mendengar apa yang akan terucap dari bibirnya.

Sejenak kulihat Gundari menelan ludah. "Bara Abu... hmmm, ia kawan yang sangat berbakat," suaranya akhirnya terdengar pelan dan tak meyakinkan. "Aku... kagum dengan apa yang dicapainya. Masih kuingat saat kami merintis karier menjadi penyair bersama-sama di sebuah rumah kecil berbau minyak tanah. Hanya dialah yang kemudian... hmmm, sukses dengan mimpinya. Kupikir itu saja ucapan dariku. Terima kasih."

Aku terdiam. Kulihat Gundari melangkah pelan kembali ke tempat duduknya. Aku yakin ia pastilah berjuang sangat keras mengucapkan kalimat-kalimat itu.

Sayangnya, aku tak lagi bisa memikirkan Gundari lebih lama karena pembawa acara sudah memanggil nama Nasir Umar. Ini membuat kepalaku langsung celingukan. Sempat aku berpikir Nasir Umar tak akan datang karena ialah yang paling keras di antara kami.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved