Cerpen Otang K Baddy

Pesan Diw

Sebagai pemilik rumah, saya bersikap wajar-wajar saja kendati suasana mistis demikian tercipta dari lidahnya yang bak pisau.

"Apakah kekasihmu telah berdusta?" tebak saya.

"Bukan," jawabnya seperti menelan ludah. Lantas wanita itu bercerita tentang kekasihnya. Ia adalah seorang intel di kepolisian. Lelaki itu sangat baik hati padanya. Namanya juga kekasih, tentu saja sangat baik. Namun tiba-tiba kedua orang tua wanita itu tak setuju jika punya menantu polisi. Entahlah, mungkin orang tuanya terpengaruh dengan segelintir oknum yang kerap menodai citra lembaga tersebut. Kendati pahit, demi menyenangkan orang tua, ia pun terpaksa menikah dengan lelaki yang berasal dari kampung ibunya.

Tapi, belakangan ini suaminya telah minggat ke rumah orang tuanya yang beda kecamatan. Alasannya kurang jelas. Dan lelaki itu kerap meneror lewat SMS, "Mau pilih suami atau ortu?" tanyanya. "Awas kalau ada lelaki lain di hatimu!" ancamnya di SMS lain. Persoalannya sangat dilematis. Sebab, menurutnya, ia dan suaminya itu masih punya rasa cinta. Tapi?

"Utang suamiku tak kurang dari 80 juta," tutur wanita itu lain waktu. Ia merasa letih dan kehabisan alasan tatkala beberapa orang kerap menagih utang yang tak jelas. Menurut suaminya, utang itu merupakan utang bersama atas pembangunan rumah yang ia diami saat ini bersama kedua anaknya yang masih balita. Bohong! Pembangunan rumah itu tak menyisakan utang sepeser pun karena telah ditanggung orang tuanya. Utang tersebut merupakan utang murni suaminya atas kekalahan dalam kebiasaanya bermain judi selama ini.

Atas dasar itulah ia merasa putus asa dan kerap ingin mengakhiri hidupnya. Namun syukurlah hal fatal itu tak sampai. Kendati begitu, ia sempat berusaha mencipta kepergiannya. Dengan segenap kekuatan dan insting yang diulang-ulang, katanya ia sempat berhasil memisahkan ruh dari jasad. Ia sempat melihat jasadnya terbujur kaku dalam kamar. Namun merasa tak tega melihat anak si bungsu yang tampak menangis di sampingnya, ia pun berusaha masuk jasadnya kembali.

"Aku sudah tak perlu berlatih lagi, kini," kata wanita itu tiba-tiba, "Hal melepas sukma dari raga bukan suatu yang sulit. Segalanya sudah refleks."

Di balik rasa bangga atas kelebihan yang dimiliki wanita itu, diam-diam meremang juga bulu-bulu saya. Bulu kuduk saya. Terlebih dalam pengakuannya ia sangatlah dekat dengan saya, lebih dekat dari sekadar bayangan dan pandangan saya selama ini.

Ah Widari, batinku antara percaya dan tidak. Widari adalah nama wanita yang mengaku tinggal di kota M. Wanita penjaja koran di dekat terminal kota kecamatan itu. Wanita yang membangkitkan gairah saya dalam dunia kepenulisan cerita pendek.

"Malam ini aku tahu kamu tengah nulis cerpen tentangku dan hendak dikirim ke koran," katanya ketika saya duduk di lantai menghadap monitor. Memang komputer jadul berlayar tabung saya itu tanpa meja, tercampak di ubin begitu saja.

"Ketika dulu kita mulai kenalan lewat nomor telepon yang kamu lacak sebelumnya, sebenarnya aku telah lebih dulu mengenalmu di rumah ini. Bahkan aku pun tahu ketika Iradiw, istrimu, yang tiba menuntut minta keadilan minta dibelikan HP baru."

Saya terenyak, nyaris tak percaya terhadap apa yang telah terjadi.

"Kang, sudah saatnya kini kita berkencan di alam nyata. Rengkuhlah aku dan palingkan wajahmu!"

Saya seakan tercengkeram kematian ketika sosok wanita yang sering ber-SMS selama itu kini nyata-nyata berada di belakang saya.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved