Di Purwakarta, Ceu Popong Minta Untuk Tidak Melupakan Perpustakaan
Menurutnya, jika perpustkaan hilang maka khazanah literasi Indonesia seakan kehilangan ruhnya.
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha
PURWAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Perpustakaan sebagai gudangnya buku kemudian masyarakat bisa mengaksesnya bisa jadi itu kini jadi hal paling konvensional, ditengah digitalisasi buku yang lebih mudah didapat hanya dengan ponsel pintar.
Perpustakaan Daerah (Perpusda) Purwakarta dan Jabar di Jalan Kawaluyaan meskipun memiliki gedung megah justru belum memiliki koleksi buku digital. Di tempat lain, banyak cafe atau restoran yang menyediakan buku dan direspon baik masyarakat pecinta buku.
"Itulah, perpustakaan harus familiar, perpus jangan terkonotasi sebagai tempat tumpukan buku dan tentu saja era sekarang harus ada elektronik perpustakaan, kami di Perpustakan Nasional (Perpusnas) sudah menerapkan itu dengan koleksi 12.500 atau jika dicetak ada 125 buku," kata Dedi Junaedi selaku Sekretaris Utama Perpusnas dalam Safari Implementsi Revolusi Mental Melalui Gerkan Nasional Gembar Membaca dalam Rangka Meningkatkan Indeks Kegemaran Membaca Masyarakat, di Aula Bank BJB, Jalan Sudirman Purwakarta, Selasa (14/3).
Perpusnas juga bekerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) untuk mendapat soft copy buku-buku dari berbagai penerbit untuk kemudian bisa diakses di eperpusnas.
"Tujuannya agar memudahkan masyarakat mengakses buku-buku bacaan sehingga jika kses ke perpustakaan jauh, bisa mengakses buku digital lewat eperpus," kata dia.
Hanya saja, itu juga bukan tanpa kendala. Karena seringkali, akses jaringan internet untuk mengakses buku digital terkendala jaringan internet bagi daerah terisolir.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Kemenkominfo, Kemendes dan Kemendiknas agar memperkuat jaringan internet di pedesaan terisolir sehingga akses terhadap buku terpenuhi," ujar dia.
Pihaknya berharap tidak hanya perpusnas saja yang menerapkan siber perpustakaan. Namun perpustakaan di tiap daerah juga perlu mengembangkan hal itu.
"Perpustakaan harus ada berikut dengan koleksi buku cetaknya. Tapi, perpustakan di tiap daerah juga perlu ada agar akses masyarakat yang jauh dari perpustakaan bisa gampang mengakses buku," kata Dedi.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi 10 DPR RI Popong Otje Junjunan mengatakan meski digitalisasi buku semakin berkembang, namun perpustakaan harus tetap eksis.
"Believe or not, jangan salah sangka, di banyak negara maju perpustakaan konvensionalnya hebat-hebat, jangan dibalik pikiran kita. Mentang-mentang ada digital, perpus dilupakan," kata Ceu Popong sapaan akrabnya.
Menurutnya, jika perpustkaan hilang maka khazanah literasi Indonesia seakan kehilangan ruhnya. Apalagi, pemerintah sudah menguatkan kehadiran perpustakaan lewat sejumlah regulasi.
"Digital itu temporer, perpustkaan asli akan bertahan lama. Apalagi kaami di DPR saat ini sedang membahas Rancangan Undang-undang Perbukuan," ujar Popong. (men)