Breaking News:

Cerpen S Prasetyo Utomo

Tarian Sufi

Belum lama Wisnu duduk, ditinggal sopir taksi yang akan menjemputnya nanti malam, seorang gadis menghampiri, mohon diperkenankan duduk di hadapannya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Tarian Sufi 

Alya merenung. Tersenyum jenaka. "Lelaki di kedai kopi itu tak mungkin kutemukan lagi. Ia seorang lelaki yang suka bepergian ke mana-mana. Ia cerita pernah mengunjungi daerah kelahiranku, Nevsehir. Rupanya, ia seorang pengembara yang suka melakukan perjalanan jauh."

Dewi Laksmi menarik tangan Alya, untuk mempertemukan gadis itu dengan calon suaminya. Alya bergegas ingin segera bertemu lelaki itu. Tetapi begitu ia melihat pemuda itu, lututnya bergetar. Ia telah mengenal lelaki muda itu semalam, dalam pertemuan yang tak diduganya di kedai kopi. Alya tak ingin tampak canggung. Ia menahan diri dan tak ingin mengecewakan Dewi Laksmi, dengan mengatakan mereka sudah bertemu semalam.

"Oh, kau sangat beruntung memiliki calon suami dia," kata Alya, menahan diri dari rasa takjub. Ia tak ingin kelihatan canggung di depan Wisnu, dan segera beranjak meninggalkan ruang pertunjukan hotel. Para penari sufi dan penonton sudah meninggalkan ruang pertunjukan, yang kini kian senyap.

"Kasihan Alya. Ia tak bisa pulang ke negaranya. Ia tak ingin ditangkap pemerintahnya. Ia ingin disunting pemuda pribumi."

"Mudah-mudahan ia segera menemukan jodohnya," ujar Wisnu, yang siang itu segera meninggalkan Dewi Laksmi. Ia mesti kembali ke bandara, kembali membawa pesawat dalam penerbangan-penerbangan jauh, negeri-negeri yang kebanyakan belum pernah dikunjungi Dewi Laksmi. Dewi Laksmi mencari Alya yang dikaguminya sebagai penari sufi paling sempurna. Alya selalu berkata, "Tarian sufi menyelamatkan jiwaku dari kegundahan."

Dewi Laksmi tak menemukan gadis Turki itu. Mungkin Alya sudah kembali ke asrama sekolah internasional.

**

TAKSI yang ditumpangi Wisnu meninggalkan hotel. Ia mesti ke bandara, dan meminta sopir taksi untuk melintasi kedai kopi. Taksi melambat. Wisnu seperti ingin mengenang pertemuannya dengan Alya, penari sufi, duduk berhadap-hadapan mencecap kopi dan makan pisang goreng panas. Semalam gadis penari sufi itu tampak sangat murni. Dalam senyap malam, gadis itu seorang diri mengunjungi kedai, hanya untuk minum kopi seperti kegemaran ayah dan kekasihnya. Sepertinya penari sufi itu sangat dalam mengenang ayah dan kekasihnya yang jauh, yang tak mungkin ditemuinya kembali.

Kini Wisnu mulai memahami, tarian sufi dan kedai kopi itu telah menyelamatkan kegundahan jiwa Alya. Dari kaca belakang taksi yang ditumpanginya, ia melihat gadis itu menghentikan taksi yang ditumpanginya di depan kedai kopi yang kosong. Membiarkan kaca belakang terbuka.

Alya memandangi meja dan kursi kosong di bawah pohon jambu, tempat ia semalam duduk mencecap kopi bersama Wisnu, sambil berbincang-bincang. Ia lirih membisikkan sepenggal bait puisi Rumi: "Mari ke kedai minuman, sahabat tercinta/melihat kegembiraan jiwa/Ketika kekasih tak bersamaku kudapati hidup tanpa riang."

***

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved