Peluncuran Buku
''Bersaing atau Tenggelam,'' Catatan Dede Yusuf Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia
Lapangan kerja bukan hanya jadi PNS atau bagian administrasi, tapi ada juga yang kini prospektif seperti pembatik modern dan barista.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Kisdiantoro
BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Dede Yusuf, Ketua Komisi IX DPR RI, meluncurkan buku berjudul "Bersaing atau Tenggelam" dalam acara meet and greet di Toko Buku Gramedia, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Senin (6/3). Dalam buku ini, kata Dede Yusuf, dibahas mengenai dunia ketenagakerjaan dan kewirausahaan di Indonesia, sampai sejumlah problematika kondisi sosial, pendidikan, dan perekonomian di Indonesia.
Buku ini berisi hasil temuan Dede Yusuf selama menjadi Wakil Gubernur Jabar dan Ketua Komisi IX DPR RI mengenai dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Dicurahkan juga ide pemikiran, gagasan, dan teori, dalam buku yang dikerjakan selama enam bulan tersebut.
Contoh permasalahan yang dibahas, katanya, adalah masih sempitnya pengetahuan pelajar mengenai dunia pekerjaan. Sehingga, disertifikasi pekerjaan harus segera diketahui para pelajar sebelum melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi.
"Lapangan kerja bukan hanya jadi PNS atau bagian administrasi, tapi ada juga yang kini prospektif seperti pembatik modern dan barista. Di buku ini juga dijelaskan sektor-sektor apa saja yang terbuka ke depannya, seiring kebijakan pemerintah," kata Dede dalam kegiatan tersebut.
Dalam buku tersebut, menurut Dede, dibahas juga pentingnya link and match antara dunia pendidikan dengan dunia usaha. Para pelajar dituntut untuk mencari peluang pekerjaan apa yang paling banyak dan prospektif di daerahnya masing-masing, kemudian menjalani jalur pendidikan sesuai dengan bidang yang diinginkannya.
Disebutkan juga dalam buku tersebut cara-cara untuk bersaing di dunia usaha dan pekerjaan, di antaranya dengan meningkatkan skill atau kemampuan, melalui pendidikan keahlian atau sertifikasi.
"Kita berbicara turunkan angka pengangguran, tapi di realita, kita juga tidak bisa tingkatkan produktivitas, makanya datang tenaga asing. Ini apakah negara terlalu bebaskan tenaga asing atau kita tidak mampu bersaing," katanya. (Sam)