Sekda Bandung Ajak Masyarakat Sarapan Sebelum Jam 9

Sekrertaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Yossi Irianto, mengajak masyarakat Kota Bandung melakukan sarapan pagi

Sekda Bandung Ajak Masyarakat Sarapan Sebelum Jam 9
Twitter
Yossi Irianto 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Sekrertaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Yossi Irianto, mengajak masyarakat Kota Bandung melakukan sarapan pagi sebelum beraktivitas. Hal itu merujuk manfaat yang didapat dari sarapan pagi sebelum jam 09.00 WIB.

Seperti diketahui, manfaat sarapan yang merupakan kegiatan makan dan minum itu untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian agar hidup sehat. Sarapan pun diyakini bisa mencegah obesitas dan stress untuk anak-anak sekolah.

"Kegiatan sarapan ini senada dengan program kami, yaitu Bandung Juara," kata Yossi kepada wartawan di Lapangan Hubdam III/Siliwangi, Jalan Moh Toha, Kota Bandung, Minggu (5/3/2017).

Yossi menilai, sarapan juga bisa menjadi upaya untuk mengurangi masyarakat kurang gizi di Kota Bandung. Sebab diakui jika dari 2,3 juta penduduk Kota Bandung, 477 ribu di antaranya tercatat masyarakat miskin. Menurutnya, 477 ribu jiwa itu bisa masuk kategori kurang gizi jika tidak dikelola dengan baik. Itu mengapa ajakan dan edukasi terhadap masyarakat soal pentingnya sarapan bisa membantu pemerintah yang memiliki keterbatasan terutama anggaran.

"Persoalan kesehatan itu tidak hanya urusan pemerintah, kami siap kerjasam dengan siapapun untuk beri edukasi sarapan. kami akan kejar 2018 dan 2012 Kota Bandung sehat," kata Yossi.

Bendahara Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indoensia (IDI), Dr. Ulul Albab SpOG, siap membantu pemerintah khususnya Kota Bandung membantu membudidayakan sarapan. IDI memiliki memiliki program dokter kecil yang siap membantu sosialiasi gerakan sarapan sehat khususnya kepada anak-anak di sekolah.

"Kadang-kadang kalau orang dewasa yang nyuruh pasti tidak akan mau. Tapi kalau yang mengingatkan anak-anak dengan bahasa mereka dgn pasti lebih masuk. Harapannya juga orang tua juga bisa tertular," kata Ulul.

Diakui Ulul, PB IDI mulai konsen terhadap persoalan gizi pada 2017. Oleh karena itu, IDI di setiap provinsi, kota, dan kabupaten berupaya untuk membantu berbagai pihak dalam sosialiasi pentingnya sarapan lantaran terkait dengan persoalan gizi. Satu di antaranya menjaring dokter-dokter cilik di setiap sekolah untuk menjadi agen perubahan.

"Upaya ini mengubah mainset, agar anak jadi agen of change dan subyek terhadap anak-anak lainnya. Jadi bukan sebagai objek saja. Konsep ini juga nBukan cetak dokter tapi agen eprubahan, mereka yang masuk program ada kelas karantina sehingga keluar dia mandiri dan bisa komunikasi terhadap suatu masalah," kata Ulul. (cis)

Penulis: cis
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved