Ini Dua Anak Desa asal Purwakarta yang Beruntung Belajar Sepak Bola di Inggris

Dua pemain akademi sepakbola Asli Sepakbola Anak Desa (Asad) Purwakarta dilepas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk pergi ke London

Ini Dua Anak Desa asal Purwakarta yang Beruntung Belajar Sepak Bola di Inggris
tribunjabar/mega nugraha
Dua pemain akademi sepakbola Asli Sepakbola Anak Desa (Asad) Purwakarta dilepas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk pergi ke London, Inggris menjalani pelatihan bersama klub Premier League, Queen Park Rangers (QPR). Dua bocah ini bernama Hamsah Medari Lestaluhu (14) dan Ahludz Dzikri Fikri (14). 

PURWAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Dua pemain akademi sepakbola Asli Sepakbola Anak Desa (Asad) Purwakarta dilepas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk pergi ke London, Inggris menjalani pelatihan bersama klub Premier League, Queen Park Rangers (QPR).

Dua bocah ini bernama Hamsah Medari Lestaluhu (14) dan Ahludz Dzikri Fikri (14). Keduanya lolos seleksi coaching clinic yang digelar di Bandung November tahun lalu.

Keduanya datang ke Rumah Dinas Bupati Purwakarta, Kamis (23/2/2017) ditemani legenda sepakbola Indonesia, Rully Nere. Keduanya akan berada di London selama 12 hari dan berangkat Sabtu (25/2/2017).

Bagi keduanya, ini bukan kali pertama menjalani kunjungan luar negeri. Keduanya pernah ke Brazil bersama Asad saat mewakili Indonesia dalam kejuaraan Danone Cup. Lalu di Spanyol kembali bersama Asad dalam kejuaraan Mediteranian International Cup.

"Ini yang ketiga kali, tapi kali ini tidak sama Asad, akan jadi pengalaman baru yang tidak akan saya sia-siakan," kata Ahludz Dzikri.

Anak seorang buruh harian lepas di Kabupaten Karawang yang kemudian lolos seleksi di Asad beberapa tahun lalu itu mengaku akan memanfaatkan kesempatan menimba ilmu dengan klub yang berlaga di kasta kedua Liga Inggris tersebut.

"Pastinya begitu, menimba ilmu dan pengalaman agar bisa bermain sepakbola lagi. Syukur-syukur kelak bisa bantu bapak saya kerja," ujarnya.

Sementara itu, Hamsah mengaku tidak ada persiapan khusus, termasuk. Hanya saja, ia dan Ahludz lebih banyak belajar bahasa Inggris. Dari mulai tenses, gramatical, vocabulary, dan lainnya dalam dua pekan terakhir.

“Paling belajar bahasa Inggris supaya memudahkan komunikasi. Saya benar-benar tidak menyangka bisa lolos kesana," ujar Hamsah.

Beda dengan Ahludz, bapak Hamsah merupakan sopir truk pengangkut kayu di Tumehu, Ambon. "Saya ingin bantu keluarga. Dan cita-cita saya kelak ingin bermain di Timnas Indonesia," katanya yang juga memfavoritkan FC Barcelona.

Keduanya juga berkesempatan menyaksikan dua klub raksasa Inggris berlaga di Liga Champions Eropa, Manchester City dan Leicester City. "Pengen nonton Liga Champions soalnya disana sekarang lagi Liga Champions," ujar keduanya.

Dedi mengaku bangga anak-anak asuhnya bisa lolos seleksi coaching clinic dan bisa menimba ilmi di negeri sepakbola. "Keduanya kami akomodir di Asad, kesehariannya sekolah, latihan sepakbola. Di Asad, semua pemain dibiayai pemerintah untuk fokus di sepakbola," ujar Dedi.

Ia menambahkan, keduanya berasal dari keluarga dengan ekonomi terbatas. Lalu, keduanya menjalani seleksi di Asad kemudian membawa Asad juara Danone Cup Indonesia 2014. "Keduanya bisa fokus menjalani pendidikan sepakbola di Akademi Asad. Saya bangga dengan keduanya dan para pemain Asad," ujar Dedi. (men)

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved