Cerpen Ida Fitri

Ruh Saman

DI bawah hujan, Puteh terus menari. Tangan dan dada ditepuk, silih berganti. Gerak guncang, kirep, linggang, dan surang-saring ia lakukan

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Ruh Saman 

"Ibunda lupa kalau serdadu Belanda juga telah menembak ayahku?"

"Tapi kamu harus menggantikan Ibunda nanti. Memimpin untuk melawan kaphe-kaphe itu."

"Setiap perempuan di sini bisa menggantikanmu, Ibunda. Mereka bisa kalau memiliki keberanian. Dan aku, putrimu, yang akan meletakkan keberanian di hati mereka."

Perempuan berwajah tegas itu menatap putrinya sesaat, kemudian menatap Syeh Saman yang sedang menyanyikan lagu perjuangan. Ia tidak membantah atau mengiyakan sang putri. Benteng Inong Balee terlarut dalam hikayat sang Syeh Saman.

***

Pungo: gila

Seuramo reungeun: bagian depan rumah Aceh

Kaphe: sebutan untuk Belanda

Abu Wa: paman

Mak Wa: bibi

Nyak: Sapaan untuk Nak

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved