Breaking News:

Cerpen Hari N Muhamad

Nyi Euis

Kukira Emak hanya menakut-nakutiku karena suka pergi ke sawah malam-malam untuk menangkap belut.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Nyi Euis 

Katanya: dahulu, sewaktu Belanda masih menjajah Tanah Air, hiduplah seorang perempuan cantik bernama Euis. Dia mempunyai rambut panjang sepunggung dan suka mengenakan kebaya. Banyak lelaki yang datang untuk melamarnya. Namun tak pernah ada yang diterimanya karena Euis sudah mempunyai kekasih yang akan segera menikahinya. Kehidupan sehari-hari Euis adalah membantu emak dan abahnya bertani. Sebuah petaka dimulai ketika salah satu tentara Belanda ada yang tertarik dengan kecantikannya dan pada suatu hari berusaha untuk menculiknya ketika dia sedang memanen padi di sawah, tapi Euis memberontak dan mencoba kabur sehingga dia ditembak sampai akhirnya meninggal.

Sang kekasih, yang sangat mencintainya, tidak bisa menerima kepergian Euis. Ia berduka begitu dalam dan tak sanggup kehilangan calon istrinya itu. Orang-orang zaman dulu terkenal sakti mandraguna, tak terkecuali calon suaminya Euis. Pada suatu malam ia membacakan jampi-jampi di hadapan jasad Euis yang sudah ditinggalkan ruhnya. Sepuluh hari sepuluh malam ia terus membacakannya tanpa henti. Sejak saat itulah ia dapat melihat Euis pada malam hari setiap musim panen. Sampai sang kekasih meninggal karena gugur di medan perang, Euis tetap muncul untuk menunggu kedatangannya.

**

MENGENANG cerita itu, sama halnya dengan mengulang ketakutan yang sama dalam mimpi burukku. Aku membayangkan Nyi Euis tiba-tiba hadir di sampingku, dan seluruh tubuhku tidak bisa bergerak, lalu Nyi Euis menggodaku dengan bebas, tangannya menyentuh wajah dan membelai rambutku. Mulutnya membisik-bisikkan sesuatu yang membuatku merinding, kemudian tubuhnya melayang dan berputar-putar di atas kepalaku, seterusnya dia kembali turun, wajah cantiknya menghadap sejajar dengan wajahku, dan perlahan-lahan wajahnya berubah menjadi buruk.

Bodohnya aku membayangkan sesuatu yang menakutkan. Mengapa tidak kubayangkan kekasihku Lela hadir di sini menemani? Kuyakin malam ini tidak akan begitu buruk dan akan menjadi indah. Wajah Lela sangat cantik, dan tentunya lebih cantik dari Nyi Euis. Apalagi Lela adalah gadis yang pandai merayu. Pelan-pelan kuelus kepalanya, kudekatkan wajahku dengan wajahnya, dan kubisikkan kata-kata yang membuatnya terlena.

"Kamu itu tampan. Hati-hati nanti Nyi Euis naksir."

Sial, Lela sempat menakut-nakutiku kemarin sore. Walau kutahu dia bermaksud bercanda, tetap saja aku takut.

Kupikir, mengkhayalkan hal-hal seperti itu hanya membuatku gila. Kucoba mengalihkan pikiran dan ketakutanku, dengan ngobor, lumayan, belutnya bisa buat makan besok waktu panen. Malam ini, rembulan sedang dalam bentuk yang sempurna. Siang seolah melompat sebagian ke malam ini untuk mengusir separuh kegelapan. Angin berjalan pelan, daun pisang sedikit bergoyang, dan suara kodok menyempurnakan suasana malam yang khas di pesawahan.

Blug!

Tiba-tiba aku mendengar suara kelapa jatuh, obor yang sedang kupegang terlepas ke sawah yang berair, dan aku segera kabur sebelum mimpi buruk itu menjadi kenyataan.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved