Breaking News:

Cerpen Hari N Muhamad

Nyi Euis

Kukira Emak hanya menakut-nakutiku karena suka pergi ke sawah malam-malam untuk menangkap belut.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Nyi Euis 

Mendengar pengakuan dari mereka, aku jadi curiga, kalau emakku dan emak teman-temanku bersekongkol menakut-nakuti kami supaya tidak pergi ke sawah malam-malam lagi. Orang tua zaman dulu memang banyak akalnya untuk memberikan peringatan kepada anak-anaknya, seperti: jangan duduk di depan pintu nanti susah dapat jodoh! Padahal alasannya sederhana, duduk di depan pintu menghalangi jalan.

Tidak seperti biasanya, malam itu tidak ada satu pun pemuda yang ngobor. Bukannya takut, kami malah senang karena peluang untuk mendapat belut lebih besar, sebab tak ada saingan.

Blug!

Tiba-tiba kami mendengar suara kelapa jatuh. Acep yang memegang obor menjatuhkannya ke sawah yang berair karena kaget dan obornya mati. Sesaat suasana menjadi hening, sebelum seorang perempuan muda menghampiri kami. Wajahnya cantik, rambutnya panjang sepunggung, dan memakai kebaya. Perempuan itu mengajak kami bermain, lalu aku, Acep, dan Sodikin mengikutinya tanpa ingat sedikit pun dengan peringatan dari emak-emak kami.

Perempuan itu berjalan ke arah hutan, dan sebagai anak kecil yang polos kami terus mengikutinya hingga sampai ke suatu tempat, ke sebuah lubang sebesar lubang gua yang banyak rumputnya dan dedaunan. Setelah kami masuk, ternyata di dalam banyak anak kecil seumuranku, mereka menangis, dan ketika aku menengok ke belakang kusadari lubang masuk yang tadi sudah menghilang.

Saat aku terbangun esok paginya, aku langsung teriak-teriak memanggil Emak dengan keringat dan napas yang tersedak-sedak. Tak lama Emak datang menghampiriku dan memberikan segelas air minum.

"Mak, aku takut," ucapku amatir. "Nyi Euis ada dalam mimpiku."

Emak tidak menjawab, beliau hanya menertawaiku, padahal mimpiku itu buruk, bukan lucu.

"Sebenarnya Nyi Euis itu siapa?"

Kali ini Emak tersenyum, dan belum bicara, kemudian beliau memanggil Abah, dan membisikkan sesuatu di telinganya. Abah menggendongku di punggungnya dan membawaku ke halaman belakang. Di sanalah Abah bercerita tentang Nyi Euis, sambil melihat ikan-ikan di kolam.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved